Back Up Puisi XII IPA 5

    Share
    avatar
    Exterminator Hexapoda
    Guild Founder
    Guild Founder

    Posts : 68
    Join date : 18.09.09
    Location : Guild Heighliner

    Back Up Puisi XII IPA 5

    Post by Exterminator Hexapoda on Fri Oct 02, 2009 5:00 pm

    Berikut diambil dari blog babe Kasdi... silakan dilihat

    #1 Fransiska Kovinna
    Spoiler:

    Pria Berdasi Sutera
    Karya : Fransiska Kovinna / 21

    Dibalik jeritan rakyat
    Penuh luka dan tangis
    Tanpa rumah tanpa makanan
    Mengemis dengan penuh harap

    Berdiri rentetan gedung bertingkat
    Dengan pria berdasi sutera
    Berjalan membusungkan dada
    Mata tajam dan langkah tegap
    Tanpa memandang kaum bawah

    Harta maupun usaha
    Didapat oleh pria berdasi
    Mengais rejeki dibalik tangisan jelata
    Menumpukkan harta diatas ratapan sedu

    Hanya pria berdasi sutera
    Dari kaum birokrasi
    Tanpa henti menambah tambalan luka rakyat
    Membuat cacat negara
    Menumpuk kekayaan pribadi

    Pria berdasi sutera
    Memakai perhiasan permata
    Dibalik kristal-kristal duka

    Hanya Pria berdasi sutera
    Penuh dengan senyum bertopeng
    Bergelimpangan harta
    Tanpa duka maupun sesal
    Merampas kekayaan dunia

    Palembang, 30 September 2009


    Penebang Liar
    Karya: Fransiska Kovinna/21

    Kala itu aku masih ingat
    Mengenggam erat gergaji dan kapak
    Membantai pepohonan dengan mesin kejam
    Tak berhati tapi menyakiti
    Dengan tangan yang kuat terbakar matahari
    Memanggul hasil tebangan

    Dibalik rumah renyok
    Ratusan kayu terhampar
    Berharap bebas tapi pasrah
    Bersiap untuk diangkut tanpa duka

    Berhenti menatap pepohonan
    Hamparan desa kecil mulai terjangkau
    Pohon hijau tak tersisa
    Dibalik retakan tanah mengering
    Hanya kayu yang mulai lapuk
    Tergeletak tanpa nyawa

    Ketika banjir datang
    Tenggelamlah rumahnya
    Pekikan, jeritan, dan derita
    Kini mulai membahana

    Kini kayu lapuk terdiam
    Tanpa suara maupun tanya
    Hanya mampu menatap si Penebang
    Dengan tubuh lemah dan deraian air mata
    Terhempas air sungai

    Jeritan memanggil meminta pertolongan
    Kayu lapuk tetap terdiam
    Mengikuti kemana arus berlabuh
    Tanpa sempat menuai harapan
    Pada siapa hendak berpihak


    Palembang, 30 September 2009

    #2 Yohanes Febrianto
    Spoiler:

    Seuntai Irama Untuk Cinta
    Oleh: Yohanes Febrianto(XII IPA 5, no absen : 46)

    Ketika ombak mulai bernyanyi……
    Aku merudung sepi, menggeliat dalam ikatan ilusi nan abadi
    Hanya menari dalam purnama sunyi, perih dan penuh ironi
    Menata kata dalam irama, menata hati dalam puisi

    Ketika ombak mulai tertawa……
    Aku terjebak dalam labirin-labirin penuh makna
    Menggapai kata…. Menguatkan tanda tanya….
    Berharap terbang dengan sayap-sayap langit di punggungnya…….

    Ketika ombak mulai bernyanyi….
    Alunan musik menata sepi, menghancurkan belenggu ilusi tak berarti
    Ikut menari dalam irama mentari hati, merajai ironi dan menerbangkan mimpi
    Membalut alunan kata, merias hati dalam enigma ilusi…..

    Ketika ombak mulai tertawa…..
    Aku berlari dalam makna….
    Membuang ikatan-ikatan hiperbola
    Dan memulai sebuah paradigma dangan balutan metafora….

    Ketika aku mulai bernyanyi…..
    Makna merangkai kata, mengikat jutaan rasa dan tertawa di atas hati
    Ketika aku mulai tertawa…..
    Ombak itu menyapa, membawa titik-titik makna dan menjerembabkannya dalam kuota warna nan perasa
    Ketika aku mulai bernyanyi dan tertawa….
    Kaki-kaki ombak memainkan biola tak berdawai yang melegenda
    Ketika aku mulai tertawa dan bernyayi…..
    Sayap-sayap langit menari dalam memori…
    Mengikat dimensi dalam aturan kata yang abadi…

    Ketika ombak tak lagi bernyanyi….
    Aku meradang sunyi….
    Dan ketika ombak tak lagi tertawa…..
    Aku terdiam dalam frase-frase kata metafora….

    Namun……
    Ketika ombak mulai bernyanyi….
    Ketika ombak mulai tertawa….
    Ketika itulah hatiku merangkai butiran kata………. Cinta

    Palembang, 30 September 2009



    Pertanyaan Sang Angin
    Oleh : Yohanes Febrianto(XII IPA 5, no: 46)

    Saat angin bertanya…..
    Dimana jiwa…dimana raga…dimana kata-kata
    Mereka hanya lenyap……. Bukan termakan usia, hanya tenggelam dalam dinginnya angka-angka yang melegenda
    Menarik diri dari alam…. Menutup diri dalam kelam

    Kala bumi pertiwi berguncang….
    Berguncang kala proklamasi berkumandang……..
    Patriot-patriot itu datang….
    Tanpa tangan…….
    Tanpa lengan…..
    Tanpa pakaian berbalut emas di badan…..
    Mereka hanya datang dengan wujud yang disisahkan oleh Tuhan
    Bukan kejam…. Hanya bentuk penderitaan….

    Semangat mereka tak padam….
    Terus menantang langit yang menari kala malam
    Semangat patirot yang amat mengharukan
    Terbalut dinginya bulan, termakan gulita yang menyeret kegelapan

    Namun kini…. Angin bertanya….
    Dimana mereka…..
    Dimana semangat juang yang dahulu dikumandangkan
    Dimana irama-irama teriakan yang dulu menghiasi langit petang
    Dimana rasa bangsa yang dulu melintang sepanjang khatulistiwa tak terkalahkan…

    Beratus atau beribu tahun yang akan datang….
    Angin akan kembali mempertanyakan…..
    Apakah akan hilang termakan bobroknya zaman
    Atau terkikis paham global yang menerjang angan-angan
    Hanya tanya angin yang sulit terjawabkan….
    Pertanyaan jiwa patirot yang kini tinggal belulang

    Beratus atau beribu tahun lagi….
    Mungkin tak akan ada pejuang-pejuang diri
    Pejuang yang mematri hidup pada ibu pertiwi..
    Pejuang yang rela mati demi berkibarnya sang merah putih

    Beratus atau beribu tahun lagi….
    Patrotisme mungkin akan dipertanyakan hati
    Pemuda-pemuda bangsa yang kini tengah tumbuh, akankan mengemban rasa ini
    Ataukah mereka hanya terlena, lalu pergi dalam mimpi

    Beratus atau beribu tahun lagi……
    Entah apa wujud patriotisme diri…..
    Menerjang lawan penuh ilusi…
    Atau sekedar bertahan dalam kotak-kotak mimpi, tak pernah melihat dunia luar yang abadi….
    Entah apa yang akan terjadi…..
    Ketika beratus atau beribu tahun lagi….. saat patriotisme melanglang waktu
    Mengukuhkan sang dimensi… dan tertawa dalam balutan abadi

    Beratus atau beribu tahun lagi…
    Siapa yang akah tahu..
    Dimana patriotisme diriku
    Dimana cinta tanah airku
    Dimana bentuk ini akan lenyap, atau tumbuh dalam mimpi-mimpi…

    Hanya angin yang akan mempertanyakan……

    Palembang, 1 Oktober 2009

    #3 Carina Eka Puspita
    Spoiler:


    Indonesiaku

    Karya : Carina Eka Puspita (XII.IPA.5/10)

    Indonesia tanah airku tercinta
    Tempat aku dilahirkan dan dibesarkan penuh dengan keragaman
    Negri dengan penuh budaya


    Tari-tarian terindah dari seluruh pelosok negeri
    Mencerminkan budaya yang tumbuh dari hati
    Ramah tamah ciri khas rakyatnya
    Yang dikagumi oleh orang mancanegara


    Wahai rakyat Indonesia
    Bangkitlah selalu dalam mengembangkan budayamu
    Agar seluruh dunia tahu betapa banyak ragam budayamu
    Meski berbeda-beda tapi semuanya tetap satu


    Melangkah bersama menuju Indonesia maju
    Bersatu padu membanggakan negerimu
    Membuat bangga negeri tercintamu
    Dengan mengembangkan seni budaya Indonesiamu

    Palembang,1 Oktober 2009




    Hari Nan Fitri

    Karya : Carina Eka Puspita (XII.IPA.5/10)



    Hari nan fitri telah tiba
    Hari untuk saling memaafkan
    Memohon maaf kepada orang tua
    dan juga handai taulan


    Ampuni aku Ya Allah
    Atas semua dosa yang kuperbuat
    Dan semua amarah
    Serta kebencian yang telah lewat


    Mari kita menuju hidup yang baru
    Dengan diiringi senyum berseri
    Menatap indahnya langkah kakimu
    Setiap langkah dengan kebersihan hati


    Palembang,1 Oktober 2009

    #4 Erryan
    Spoiler:

    Puisi Kepahlawanan

    Terima Kasih
    (karya : Erryan XII IPA 5 / 18)

    Hai Pahlawan
    Engkau yang berjuang untuk negeri ini
    Engkau yang melindungi negeri ini
    Jasamu melambung tinggi

    Cucuran keringat
    Tumpahan darah
    Tiada masalah bagimu

    Semangat berjuangmu
    Bagai elang yang terbang tinggi tiada henti
    Pengorbananmu
    Tidak ada yang bisa memperkirakannya

    Engkaulah seperti Bendera Merah Putih
    Merah yakni keberanianmu
    Putih yaitu kesucian pengorbananmu

    Tidak kenal lelahmu
    Terbukti sampai detik-detik keberhasilan

    Terima kasih
    Atas perjuanganmu itu
    Atas semua yang engkau berikan ini

    ---------------------------------------------

    Puisi kepedulian sosial

    Terdiam Terpaku
    (karya : Erryan XII IPA 5 / 18)

    Apa yang bisa kukatakan
    Terdiam terpaku dengan kepala yang menggeleng-geleng
    Dan keprihatinan yang mendalam

    Saat melihat hutan yang dulu hijau
    Kini gundul tak berisi

    Saat mendengar bahwa pekerja asal negaraku
    Dileceh dan direndahkan oleh orang negeri lain itu

    Saat melihat anak-anak yang seharusnya berseragam sekolah
    Berada di pinggir jalan dengan tangan meminta

    Saat melihat para ibu-ibu berbisik
    Kalau harga sembako kian melangit

    Saat tahu bahwa korupsi
    Dilakukan dari dulu tanpa henti

    Saat menyadari kalau harta negara sendiri
    Digali oleh negara lain

    Ketika hukum
    Masih belum ditegakkan

    Ketika aku menyaksikan
    Masih banyak orang yang tersiksa hidupnya

    Apa hendak dikata
    Aku tak tahu mengapa
    Terlintas di pikiranku
    Untuk bertanya
    Kepada mereka yang berkuasa

    1 Oktober 2009

    #5 Meilisa Susilo
    Spoiler:

    Pendidikan
    Meilisa Susilo/32/XII IPA 5

    Pendidikan adalah tambang perak
    Tidak akan pernah kehabisan
    Pendidikan adalah kunci awal kesuksesan

    Pendidikan adalah ilmu murni
    Tidak bisa dibeli dengan uang
    Tidak bisa ditukar dengan barang
    Namun harus dipupuk sebanyak-banyaknya

    Pendidikan adalah yang paling kuat
    Senjata yang dapat kita gunakan untuk mengubah dunia
    Melayani dengan berbagai cara
    Membuat generasi baru yang lebih berarti

    Pendidikan mengajarkan bagaimana kita menjadi hebat
    Bagaimana mendedikasikan dengan cara tak terbatas
    Membuat keputusan dengan tepat
    Mengajarkan kita untuk bernanfaat bagi orang lain

    .................................

    Kupu – Kupu Malam
    Meilisa Susilo/32/XII IPA 5


    Terang siang bergeser digantikan gelap malam
    Gemerlap malam hadir dengan beribu kehidupan
    Kupu – kupu terbang sesuai arah angin berhembus
    Seakan tidak tahu arah yang dilewati

    Menuggu kedatangan seorang pria yang menghampiri
    Dengan pakaian yang menggugah hasrat
    Dengan dandanan yang begitu mempesona
    Tanpa malu menawarkan tubuhnya di tengah keheningan malam

    Menjual tubuh demi selembar uang
    Walau hinaan dan caci maki datang menghampiri
    Ia tetap tegar menjalani
    Ia tetap setia dengan pekerjaannya

    Ia tahu ini dosa, ia tahu ini hina
    Hanya penyesalan tiada ujung yang hadir
    Terdiam, merenungi nasib yang hina ini
    Menangis, meratapi dosa yang ia tuai

    Moral pun hilang
    Kehormatan diri lenyap
    Ini kisah nyata
    Krisis moral yang melanda kupu – kupu malam

    2009 Oktober 1 05:17

    #6 Dede Wiguna
    Spoiler:


    Nada Kemiskinan
    Karya: Dede Wiguna / 15

    Nada yang rendah sekali
    Jatuh selalu ke hati sunyi
    Yang mendengar hanya telinga hati
    Tak sampai akhir kami sudah mati
    Tapi kami tak mati-matian

    Tuan tak pernah mendengar lagu ini
    Sejak lama sekali kami sudah menyanyi
    Mengenang susah, hidup payah
    Tuan tutup telinga, mulut dan mata
    Tuan cuma ingin cepat pergi

    Kami tak bisa memandang nasib negeri ini
    Kala hidup menjelang pelukan mati
    Tak ada yang menanti
    Tak ada yang ingin bertemu lagi

    Nada-nada yang menghampiri
    Membekas di hati manusia
    Menghadapi bayangan nada yang menghantui
    Yang tersisa hanyalah nada kemiskinan

    Palembang, 1 Oktober 2009


    Kemerdekaan
    Karya: Dede Wiguna / 15

    Bagaimana kalian mengendap dalam gelap malam
    Bersembunyi di bawah bukit dan benteng
    Bagaimana jantung kalian berdebar
    Ketika iringan kendaraan itu menghampiri kalian

    Lalu bagaimana tubuhmu ditembus peluru
    Dan kalian terjatuh ke tanah berlumur darah
    Di atas tanah berumput terbaring beku
    Terpaku pada ilalang yang bergoyang

    Bagaimana kalian dengan baju kumal
    Baju yang compang camping
    Menyandang karaben Jepang
    Di barisan-barisan terdepan

    Bagaimana kalian terpelanting
    Dari tebing-tebing pertempuran
    Bagaimana kalian menyerbu tank
    Dengan bambu runcing

    Bagaimana kalian bertahan habis-habisan
    Ketika dikepung musuh di segala penjuru
    Bagaimana kalian mengunci rapat rahasia
    Dalam mulut yang teguh membisu

    Bagaimana peristiwa itu berlangsung
    Pastilah suatu memori yang agung
    Kemerdekaan yang telah kalian rebut
    Kemerdekaan yang kalian wariskan kepada kami penerus bangsa ini

    Palembang, 1 Oktober 2009

    #7 M. Mezal R. D.
    Spoiler:

    Hutan
    Karya : M.Mezal R.D./29

    Hutanku yang malang
    Kini kau tlah menghilang
    Semua karena kami
    Yang tidak mau mengerti

    Betapa pentingnya keberadaanmu
    Keu mencegah erosi
    Kau mencegah banjir
    Kau menyediakan mata air

    Tapi apa yang kami lakukan
    Menebang pohon
    Membakar hutan
    Memburu hewan

    Kita tidak boleh tinggal diam
    Tanpa ada tindakan
    Kita harus melakukan penghijauan
    Dengan mulai menanam

    Harusnya kita sadar
    Betapa pentingnya penghijauan
    Agar hutan kembali bersinar
    Demi kepentingan di masa depan

    ..........................................................

    Wakil Rakyat
    Karya : M.Mezal R.D./19

    Wakil rakyat...
    Kalian kumpulan orang hebat
    Orang-orang berpendidikan
    Orang-orang yang berjiwa pemimpin

    Kalian penyalur hati kami
    Yang belum menerima keadilan
    Yang masih membutuhkan perhatian
    Dari pihak yang berwenang

    Kalian dipilih bukan dengan undian
    Bukan karena penyogokan
    Tapi karena kami percaya
    Kalian mau membela kami disini

    Tapi apa yang terjadi
    Kalian malah korupsi
    Tanpa memikirkan kami
    Yang berjuang demi sesuap nasi

    Seperti kata bung Iwan
    Wakil rakyat seharusnya merakyat
    Bukan mencari emas berkarat
    Sedangkan kami melarat

    Harusnya kalian sadar
    Tindakan kalian tidak benar
    Dan kalian harus banting tulang
    Agar semua menjadi benar


    #8 Melysa Andry
    Spoiler:

    Pendidikan Mereka

    Karya : Melysa Andry (XII IPA 5 / 35 )

    Mereka merasa perkasa
    Berada di kelompok paling kuat
    Tidak ada yang berani melawan

    Mereka merasa sempurna
    Mempunyai raga kuat
    Mampu menembak orang tak mereka suka

    Mereka tak sadar
    Mereka belum sempurna
    Pendidikanlah yang tak mereka punya

    Pendidikan adalah kunci kehidupan
    Pendidikan adalah kekuatan meraih cita
    Pendidikan membutuhkan proses belajar
    Bukan didapat dari pisau dan senjata

    Pendidikan akan membawa mereka ke tempat yang tinggi
    Bukan membawa mereka ke balik jeruji besi
    Bukan pula membawa mereka ke pengadilan negeri
    Sebagai pembunuh tingkat tinggi

    Bila mereka terus berada di kelompok itu
    Mereka akan hidup dengan kutukan
    Menemukan penyesalan selamanya


    Palembang, 1 Oktober 2009

    __________________________________

    Krisis Moral Generasi Muda

    Karya : Melysa Andry (XII IPA 5 / 35 )

    Di era globalisasi ini
    Kriminalitas terjadi dimana-mana
    Pergaulan bebas, peredaran narkoba, dan pemerkosaan meraja lela

    Setiap saat, kejahatan dapat terlihat indera
    Namun, tak ada yang mampu melihat
    Moral generasi muda yang sedang dijajah

    Generasi muda yang merupakan aset bangsa
    Gengerasi muda yang merupakan harapan orang tua
    Terjerumus dalam krisis moral yang tak terbendung

    Generasi muda menghalalkan semua cara
    Demi kepuasan mereka sendiri
    Generasi muda yang hanya menuntut hak
    Namun tak sekalipun melakukan kewajiban

    Tak ada lagi rasa peduli
    Tak ada lagi rasa berbagi
    Tak ada lagi rasa gotong royong
    Tak ada lagi semangat membangun bangsa

    Sampai kapankah harus begini ?
    Sampai kapankah ini semua akan berakhir ?
    Hanya waktu yang mampu menjawabnya.


    Palembang, 1 Oktober 2009

    #9 Amelia Sevira
    Spoiler:

    Tangis Dalam Sujudku
    Karya: Amelia Sevira (XII P 5 / 04)


    Perlahan-lahan air mata itu tumpah ..
    Menetesi paras melampaui batas ..
    Terus mendesak tanpa kenal lelah ..
    Seakan-akan berteriak dengan ganas ..

    Perlahan-lahan air mata itu jatuh ..
    Jatuh tak tertahankan menembus batin ..
    Terus bergemuruh ,
    Memaksa hidup di jiwa yang lain ..

    Perlahan-lahan air mata itu kembali jatuh ..
    Menyusuri paras yang mulai merona ..
    Bak api yang menyala di suluh ..
    Selalu menjawab resah akan gelapnya fana ..

    Sungguh , jiwa ini tak mampu bertahan ..
    Terus terbeban atas segala macam maksiat ..
    Sungguh , batin ini sulit melawan ..
    Tak mampu menyesali segala dosa yang berat ..

    Betapa gundahnya hati ini ..
    Sungguh tak mampu lagi terasa ..
    Hanya ada galau dan sunyi ..
    Yang selalu menjauh dari asa ..

    Tuhan ..
    Ampuni semua dosa hamba-Mu ini ..
    Ampuni hamba dari segala macam siksaan ..
    Ampuni hamba yang tak sempurna ini ..

    Tuhan ,
    Dalam sujudku aku berdoa ..
    Berharap segala penyesalan ,
    Tergantikan dengan keridhoan ..

    Palembang , 01 Oktober 2009


    Puisi Sang Merah Putih
    Karya: Amelia Sevira (XII P 5 / 04)


    Ketika Sang Merah Putih menyibakkan keberanian ..
    Bersama seruan dan hembusan angin ..
    Diiringi untaian lagu kebangsaan ..
    Hanya ada haru yang terus terbenam ..
    Hati tak mampu menahan gelora ..

    Ketika Sang Merah Putih berkibar ..
    Dengan asa yang yang mulai bersinar ..
    Bagai gejolak yang semakin berkobar ..
    Hanya ada rasa bangga yang mulai terpatri ..
    Jiwa seakan ikut berseri ..

    Dalam senja ia berseru ..
    Dalam diam ia berlagu ..
    Dalam duka ia tak pernah mengadu ..
    Ia tak akan pernah mengeluh ..
    Dari segala lara dan pilu ..

    Inilah untaian puisi cinta ..
    Rasa cinta terhadap tanah air ..
    Rasa cinta terhadap hamparan pulau biru ..
    Rasa suka dalam nuansa kemerdekaan ..
    Seakan-akan menyatu dan menjadi candu ..

    Inilah untaian bait-bait kagum ..
    Rasa kagum terhadap nusa dan bangsa ..
    Rasa haru yang bernaung di singgasana batin ..
    Rasa bangga yang tak akan pernah terganti ..
    Terus menyatu dalam diri ..

    Biar , biarkan Sang Merah Putih terus berkibar ..
    Agar Indonesia pertiwi , tetap abadi ..
    Biar , biarkan Sang Merah Putih tersenyum ..
    Agar Indonesia yang kita cintai ..
    Selalu ada di dalam hati ..

    Palembang , 01 Oktober 2009

    #10 Cindy *******
    Spoiler:

    Rakyat Kecil

    Karya : Cindy ******* / 12

    Adil..
    Beradab..
    Inti dari kemanusiaan..
    Isi pancasila,
    Ideologi negara kita
    Hal dasar yang wajib kita lakukan
    Terpenting bagi kita semua..
    Sayangilah sesama kita
    Tanpa terkecuali

    Hidupkanlah semangat Pacasila
    Kita harus bersatu
    Satu sama lain..
    Jangan pernah diam
    Melihat rakyat kecil
    Yang tertindas..

    Janganlah kita tertawa..
    Janganlah kita merasa bahagia..
    Dalam penderitaaan mereka
    Karena bantuan kita,
    Mereka dapat tersenyum kembali
    Menghadapi kejamnya hidup ini

    Palembang, 30 September 2009

    -----------------------------------------

    Pahlawan-ku

    Karya : Cindy ******* / 12

    Pejuang-ku..
    Yang begitu ku hormati
    Yang begitu ku hargai
    Banyak hal yang engkau lakukan..
    Demi kami semua
    Para penerusmu ini..


    Akan kami teruskan
    Perjuangan yang belum selesai ini..
    Dengan kemampuan kami,
    Dengan semangat dan kekuatan kami..

    Karena tanpa kalian,
    Kami tidak akan merasakan
    Kebahagiaan,
    Kemerdekaan,
    Kedamaian..
    Yang sekarang kami rasakan..
    Terima kasih Pahlawan-ku

    Palembang, 30 September 2009


    #11 Deborah Anggraini Aritonang
    Spoiler:

    Deborah Anggraini Aritonang / 14

    Pahlawan Si Jago Merah

    Kau datang bak superman
    Siap membuat lawanmu mundur
    Kau datang bagaikan ksatria berjubah
    Dengan segala keberanian dan kegagahan
    Kau datang layaknya malaikat
    Siap menolong mereka yang menjadi korban

    Sayangnya kau bukan superman
    Bukan pula ksatria berjubah
    Apalagi seorang malaikat
    Kau bahkan tidak memiliki jubah atau sayap
    Jiwa tulus itulah yang kau punya

    Kau tegak dengan kokoh
    Kau tantang si jago merah
    Selang panjang jadi andalanmu
    Seragam lusuh pun menemanimu
    Dalam tugas menaklukkannya

    Nyawa-nyawa itu
    Kau selamatkan satu per satu
    Tak peduli nyawa taruhannya
    Tak peduli peluh keringat yang menetes
    Tak peduli bahaya si jago merah

    Ketika kau berhasil taklukkan dia
    Semua sorot mata tertuju padamu
    Menggambarkan kelegaan
    Sebagai isyarat ungkapan terima kasih

    Kau pulang dengan mobil merahmu
    Keletihan menemanimu
    Dalam perjalanan panjang
    Menuju peristirahatan yang tenang

    Di balik semua itu
    Puluhan bahkan ratusan bibir
    Tengah memanjatkan doa kepada Dia
    Berterimakasih atas pengorbananmu
    Berterimakasih atas jerih payahmu
    Berterimakasih atas segala tetes keringatmu
    Yang terus terlantun hingga suara sirine lenyap

    ---------------------------------------------

    Deborah Anggraini Aritonang / 14

    Air Mata Sang Gadis

    Gadis..
    Kau masih begitu muda
    Begitu belia, begitu putih
    Tubuhmu masih begitu kecil
    Tanganmu pun masih terlalu halus
    Sifatmu masih terlalu polos

    Di usia dini
    Kau harus banting tulang di negeri orang
    Kau merpertaruhkan nasib
    Hanya demi segenggan uang
    Untuk keluarga di rumah

    Tapi, apa yang kau dapat?
    Hinaan, siksaan, makian
    Dari orang tak beradab
    Dari orang tak berakal
    Dari orang tak berahlak

    Gadis..
    Kau tetap diam
    Kau hanya pasrah
    Hanya dapat berpasrah pada-Nya
    Menanti secercah harapan
    Agar dapat kembali ke tengah keluarga

    Sampai kapan kita hanya diam?
    Sampai kapan kita hanya jadi penonton?
    Sampai kapan kita hanya berkata-kata?
    Sampai kapan kita hanya duduk?

    Perbuatan yang perlu bukan yang lain
    Selamatkan teman kami
    Selamatkan saudara kami
    Saudara sebangsa
    Saudara setanah air
    Saudara satu Bumi Pertiwi

    Jemput dia, kembalikan dia
    Supaya ia dapat kembali
    Kembali ke bangsanya
    Kembali ke tanah airnya
    Kembali ke Bumi Pertiwinya
    Kembali ke hadapan keluarganya
    Agar air mata itu
    Tidak terbuang sia-sia

    2009 Oktober 1 07:14

    #12 Brian Lie
    Spoiler:

    Bayang-bayang Negeriku

    Karya: Brian Lie / 09

    Inilah tanah airku sekarang
    Yang selalu dipuja-puja setiap orang
    Tempat di mana aku sekarang dengan bangga membelanya

    Pulau-pulau yang terpisah
    Mereka semua bersatu teguh
    Di cengkraman Sang Garuda

    Beragam budaya, suku, dan agama
    Mereka semua bersatu teguh
    Di bawah kibar Sang Saka

    Tuhan telah memberi kita karunia
    Hari baru sedang dimulai
    Matahari pagi telah terbit
    Bangsa baru telah bangkit

    Pernahkah muncul pertanyaan
    Mengapa bukan dari dulu bangsa kita bersatu
    Mengapa harus melalui derita
    Muncul rasa persatuan

    Sebanyak apa yang kita tahu
    Tentang perjuangan leluhur kita
    Tidak dapat kita bohongi diri kita sendiri

    Benar bahwa semangat itu
    Semangat para leluhur kita
    telah jauh memudar di dalam diri kita
    Bangsaku telah kehilangan cahayanya

    Saat hari menjelang sore
    Saat matahari pun segera lelap
    Tiba-tiba negeriku menangis

    Ada apakah gerangan
    Tuhanku telah mengirimkan cobaan
    Tanah airku terkena bencana

    Saat di mana cobaan menghampiri
    Saat inilah hati seluruh bangsa tergerak
    Hanya pada saat sesama menderitalah
    Semangat itu kembali
    Semangat bersatu teguh menolong sesama
    Meski cobaan tak hentinya datang menghampiri

    Inikah yang direncanakan Tuhanku
    Mengembalikan semangat cinta tanah air
    Yang telah lama memudar di hati kita

    Inilah tanah airku sekarang
    Yang dulu selalu dipuja-puja setiap orang
    Tempat di mana aku sekarang iba melihatnya

    Palembang, 1 Oktober 2009

    ================================

    Tuhanku

    Karya: Brian Lie / 09

    Tuhanku
    Aku datang kepada-Mu
    Akulah hamba-Mu yang paling hina
    Yang telah meninggalkan-Mu

    Tuhanku
    Sekarang aku telah mengerti
    Segala sesuatu yang telah kulakukan
    Akan berakhir begitu saja

    Tuhanku
    Engkau telah membuka mataku
    Engkau telah datangkan cobaan berat
    Engkau telah membuat kami menyadari
    Betapa besar kuasa-Mu atas manusia

    Tuhanku
    Kehendak-Mu adalah perintah bagiku
    Seluruh jiwa raga ini
    Seluruh yang kupunya ini
    Telah kuserahkan kepada-Mu
    Aku telah berserah diri kepada-Mu

    Tuhanku
    Raja di bumi dan si sorga
    Hanya kepada-Mu lah aku bersujud
    Aku tidak dapat mengelak

    Tuhanku
    Kembalikanlah aku ke sisi-Mu
    Supaya aku dapat memuliakan nama-Mu
    Sampai waktuku berakhir

    Palembang, 1 Oktober 2009


    #13 Fanny Roselia
    Spoiler:

    Siapa Mereka?
    Karya : Fanny Roselia (XII IPA 5/19)

    Malam makin larut
    Memaksaku untuk menutup tirai kedua mataku
    Aku terlelap dalam suasana gelap
    Membuatku meninggalkan segala keletihanku

    Kebisingan memaksaku untuk bangkit
    Bangkit dari tempatku berpijak
    Semakin lama aku semakin sadar
    Tempat ini bukanlah tempat biasa

    Aku termenung menatap sekelilingku
    Banyak orang
    Dengan tekad yang berkobar-kobar
    Meneriakkan “MERDEKA!MERDEKA!”

    Semua ini mengingatkanku
    Pada suatu masa
    Begitu jauh
    Dan tak pernah terbayangkan olehku

    Semua orang bersenjata
    Wajah mereka tegang
    Peluh mereka bercucuran
    Siap membunuh lawan yang mendekat

    Mereka merebut apa yang menjadi milik mereka
    Mereka berjuang tanpa henti
    Tanpa mengenal lelah
    Tanpa mengenal waktu

    Jiwa dan raga mereka korbankan
    Tanpa mengharap kembali
    Semua ini demi Tanah Air
    Bumi pertiwi yang membesarkan mereka

    Kusebut mereka pahlawanku
    Pejuang negeri yang tak bisa tergantikan
    Yang akan kukenang selamanya
    Meskipun waktu terus bergulir

    Akankah ada penerus seperti mereka?
    Yang rela mengorbankan diri demi Tanah Airku
    Tempatku berpijak dan menguntai rantai kehidupan
    Ialah Indonesiaku


    Palembang, 2 Oktober 2009

    ------------------------------


    Negara Sampah
    Karya : Fanny Roselia (XII IPA 5/19)

    Hei, Dunia….!
    Lihatlah negeri ini!
    Rapikah?
    Indahkah?
    Atau…sebaliknya?
    Sebelum bersuara…buka mata Anda..

    Pilar-pilar gedung berbaris rapi
    Mengisyaratkan sebuah kota MAJU
    Tetapi..
    Kenapa banyak yang Masuk Jurang?
    Inikah makna MAJU itu?

    Negara kita negara Kaya
    Kaya sumber alam
    Kaya bahan pangan
    Tapi, juga kaya orang miskin
    Lantas… Pantaskah kita sebut kaya?

    Sedikit perhatian negara ke mereka
    Sedikit juga kasih orang besar ke yang kecil
    Ringis tangisan derita mereka emban
    Membawa amarah yang menumpuk di dada
    Dan berteriak “Dimana hati kalian?”

    Orang-orang miskin tersurat di sepanjang sejarah,
    Bagai bahan penting yang harus diingat
    Bagai sesuatu yang harus diharga
    Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
    Tertuju ke dada kita,
    Atau ke dada mereka sendiri.
    O, renungkanlah :
    Orang kecil abu-abu
    Juga berasal dari kemah Ibrahim


    Palembang, 2 Oktober 2009


    #14 Anna Stasiana Iskandar
    Spoiler:

    Tanah Airku

    Karya :Anna Stasiana Iskandar
    Nomor Absen : 07

    Disinilah aku dilahirkan
    Disinilah aku dibesarkan
    Disinilah aku banyak belajar
    Disinilah tanah airku

    Tanah airku tempat yang kucinta
    Tanahnya menjadi tempat kehidupan
    Terus bersamaku hingga aku tumbuh dewasa
    Terus menjadi pendampingku saat aku merasa sendirian

    Begitu banyak kenanganku bersamamu
    Begitu banyak kisah dan kejadian yang kita alami
    Bersamamu hidupku menjadi lebih berwarna – warni
    Bersamamu aku melangkah untuk maju

    Tanah airku…
    Engkau kusayang
    Engkau kucintai
    Sepenuh hatiku

    Kadang aku bertanya,
    Apa yang terbaik untukmu tanah airku?
    Dan aku tahu,
    Yang terbaik untukmu adalah engkau dicintai oleh seluruh bangsa

    Aku tahu,
    Engkau selalu berharap agar seluruh bangsa menghormatimu
    Agar seluruh bangsa menyayangimu
    Tapi ada segelintir orang yang mengecewakanmu
    Mengecewakanmu hingga menusuk hati
    Tapi engkau tetaplah tanah air yang kucintai

    Setiap langkahku, kemana pun itu
    Aku selalu mengingatmu
    Dan tak akan melupakanmu
    Walau aku akan pergi jauh
    Tapi aku akan selalu mengingatmu
    Di setiap langkah demi langkah yang kutempuh

    Penuh peristiwa di tanah airku ini
    Penuh warna–warni yang menghiasi
    Dari warna-warni itulah pesonamu berkilau
    Dari kilaumu aku memulai

    Saat pertama kemerdekaan dikumandangkan
    Bendera merah putih pun dikibarkan
    Semua itu tertanam tepat di atas tanah airku
    Yang menjadi pusat kebanggaanku

    Jayalah selalu tanah airku
    Karena engkaulah panutanku
    Baik di dalam hidupku
    Maupun ketika aku menempuh cita-citaku

    Palembang, 02 Oktober 2009

    ------------------------------------------

    Arti Sebuah Kehidupan

    Karya :Anna Stasiana Iskandar
    Nomor Absen : 07

    Hidup…
    Apa arti hidup?
    Dan apa pula arti dari kehidupan?

    Banyak kata yang mewakili arti tersebut
    Namun…
    Hanya satu jawaban
    Hidup itu adalah anugerah dari Tuhan
    Anugerah yang paling indah

    Bagaimana hidup itu kita jalani?
    Penuh liku dan tantangan serta badai
    Diliputi cobaan dan godaan
    Namun tetap kita jalani

    Semua kisah yang kita jalani
    Telah terukir indah hingga akhir hayat
    Sampai pada waktunya nanti
    Tetap akan terkenang sampai mati

    Tuhan itu Maha Tinggi
    Tuhan juga yang paling mengerti
    Tuhan mengetahui apa yang kita butuhkan
    Dan Tuhan tahu apa yang kita inginkan

    Tuhan bukan pesulap
    Tuhan juga bukan penyihir
    Yang dapat mengubah sesuatu dengan tongkatnya
    Yang dapat mengubah sesuatu dengan mengucapkan mantra

    Tuhan ingin yang terbaik di dalam hidup kita
    Maka kita pun harus memberikan yang terbaik untuk Tuhan
    Walau Tuhan tak pernah memintanya
    Namun tetap harus kita lakukan

    Tuhan…
    Engkau Maha Pengampun
    Engkau mengampuni semua orang berdosa
    Walau kami seringkali jatuh
    Tetapi Engkau tak pernah lelah mengulurkan tangan-Mu

    Maafkan kami, Tuhan…
    Walau kami seringkali jatuh dalam jurang kegelapan
    Tapi kami terus percaya dan berusaha
    Agar kami dapat terbebas dari labirin kehidupan ini

    Palembang, 02 Oktober 2009

    2009 Oktober 2 00:07


    #15 Handyanto
    Spoiler:

    Nasib Lingkunganku

    Karya :Handyanto
    Nomor Absen : 25

    Kutatap tanah hijau luas membentang.
    Kulihat burung-burung terbeng berkeliaran.
    Suara air bagaikan musik yang berdendang.
    Menyejukkan hati yang penuh beban.


    Pohon-pohon tinggi menjulang.
    Melindungi ku dari panas sang surya.
    Kubaringkan tubuhku di rumput yang gersang.
    Sambil merasakan keindahan tatasurya.


    Angin lembut datang membelai.
    Harum bunga masuk menenangkan pikiran.
    Membangunkan tubuhku yang lunglai.
    Membukakan mataku tentang keindahan.


    Tangan-tangan kotor merusak mereka.
    Pohon,bunga,udara bersih...seakan musnah dalam keheningan.
    Keindahan yang pernah kurasa,seakan menjadi neraka.
    Padahal mereka ada untuk semua insan.


    Perlahan tapi pasti.
    Lingkungan indah telah tiada.
    Menyesalpun tak ada arti.
    Saat hujan tak ada lagi yang menada.


    Lingkungan bagai sesuatu yang tak tergantikan.
    Mereka ada untuk semua insan.
    Darat,air,udara..semua butuh lingkungan.
    Hancurnya lingkungan,merupakan kehancuran bagi semua insan.
    Air mata seakan tak tertahan.
    Melihat lingkungan diambang kehancuran.

    Palembang,02 Oktober 2009

    ----------------------------------------

    Kinerja Pemerintah

    Karya : Handyanto
    Nomor Aben : 25


    Pemerintah....
    Pemerintah dibentuk oleh rakyat.
    Kebijakan-kebijakn dibuat untuk kita.
    Segalanya sudah tersirat.
    Mereka melakukan yang terbaik untuk kita.



    Bagaikan langit dan awan.
    Langit selalu melindungi awan.
    Namun seringkali langit menyakiti awan.
    Begitu juga sikap pemerintahan...



    Kelambanan pemerintah seakan menjadi duri.
    Kesalahan-kesalahan menjadi tak berarti.
    Hukum yang telah dibuat seperti kehilangan jati diri.
    Cara kerja pemerintah mulai kehilangan arti.


    Kini masyarakat hanya bisa menanti.
    Berharap pemerintah membenah diri.
    Membentuk kembali sistem pemerintahan yang sejati....
    Bukan sekedar teori namun kemauan dalam diri..

    Palembang,2 Oktober 2009


    #16 Ghea Teresa
    Spoiler:

    Tidur Pun Digaji

    Karya : Ghea Teresa / 24

    Sejatinya..
    Mereka adalah alat rakyat,
    tunduk pada rakyat
    Bukan hanya melalaikan kewajiban,
    namun juga melupakan tujuan mereka

    Ketidakdisplinan
    Keberbelitan
    Dan pemborosan
    Telah menjadi semboyan mereka
    Semboyan untuk mewujudkan Indonesia
    yang penuh dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme

    Ratusan kursi panas yang mereka perebutkan
    Hanyalah unuk ketenaran belaka
    Kursi-kursi itu hanya dapat diam membisu
    Memperhatikan diri mereka dihinggapi sarang laba-laba dan debu

    Apa sih yang ingin mereka capai?
    Tidur pun digaji
    Wajar banyak rakyat yang ingin memperebutkan kursi panas itu
    Tak perlu bekerja
    Tapi dapat uang

    Sudahla...
    Rakyat kecil seperti kita
    Hanya mereka anggap sampah
    suara kita hanya angin yang bertiup lembut di telinga mereka

    Sekarang,
    Kita hanya bisa berdiam diri..
    Menunggu...
    Kembalinya para birokrat yang waras

    Palembang, 2 Oktober 2009

    -------------------------------------------------

    Lautan Sampah

    Karya : Ghea Teresa / 24

    Tangan keatas
    Mata tertutup
    Dan diam membisu
    Hanya itukah yang kita bisa?

    Tak menoleh sedikitpun
    Seolah-olah tak mau tahu
    Kemanakah bangsa Indonesia yang dulu?
    Bangsa yang menyayangi negri ini
    Dibalik pintu peti kah mereka?

    Dari sabang sampai merauke
    Terbentang lautan sampah
    Memberikan aroma disetiap sisinya
    Tangan-tangan lusuh dan keriput
    Mengangkat dan membakar
    Demi mendapatkan sesuap nasi

    Akankah sampah menjadi bagian hidup rakyat?
    Kitalah rakyat..
    Hanya kita yang dapat menjawab
    Dan menentukan nasib negeri ini

    Palembang, 2 Oktober 2009

    #17 Maria Ellsa
    Spoiler:

    Tentang Guru
    Karya: Maria Ellsa Primayana/31

    Banyak yang bilang guru itu payah
    Pagi sore bekerja tanpa mengenal lelah
    Hanya demi satu tujuan
    Untuk mensukseskan kehidupan bangsa

    Banyak yang bilang guru itu susah
    Pagi sore bekerja gaji tak seberapa
    Namun bukan itu yang dituju
    Kepuasan batinlah yang dicapai

    Aku bilang guru itu senang
    Mengajar tak kenal lelah
    Memberi ilmu pengetahuan
    Ilmu yang takkan pernah pudar

    Aku bilang guru itu murah hati
    Susah payahnya kadang tak terliput
    Semangatnya bagai api yang berkobar
    Membakar semangat para muridnya

    Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa
    Jasanya tak pernah mengharapkan pamrih
    Lelahnya menghasilkan bunga bangsa
    Bunga bangsa demi masa depan

    Palembang, 2 Oktober 2009

    -------------------------------------

    Rumahku Rumah Kardus
    Karya: Maria Ellsa Primayana/31

    Ditempat ini aku berteduh
    Menghindar dari teriknya matahari
    Menghindar dari rintiknya hujan
    Mengindar dari dinginnya angin

    Ditempat ini aku bernaung
    Mengukir kenangan indah
    Yang tak terlupakan
    Disini kujalani hari-hari bahagia

    Ditempat ini aku tidur
    Melepas semua lelah dan penat
    Berharap esok kan lebih cerah
    Menatap masa depan nan indah

    Namun semua tak sesuai harapan
    Tak sesuai dengan kenyataan
    Disini aku bernaung
    Dirumahku rumah kardus

    Palembang, 2 Oktober 2009


    Terakhir diubah oleh Exterminator Hexapoda tanggal Sat Oct 03, 2009 7:28 pm, total 3 kali diubah
    avatar
    Crabzzz
    Guild Prodigy
    Guild Prodigy

    Posts : 2
    Join date : 20.09.09

    Re: Back Up Puisi XII IPA 5

    Post by Crabzzz on Sat Oct 03, 2009 3:01 pm

    wew. la kw backup
    mantep bok Very Happy
    avatar
    Exterminator Hexapoda
    Guild Founder
    Guild Founder

    Posts : 68
    Join date : 18.09.09
    Location : Guild Heighliner

    Re: Back Up Puisi XII IPA 5

    Post by Exterminator Hexapoda on Sat Oct 03, 2009 6:16 pm

    #18 Novianti D. A.
    Spoiler:

    Ratapan Untuk Anak Bangsa
    oleh: Novianti Dewi Astri / 36

    Terpaku aku dalam bisu..
    melihat dunia yang mulai terbelenggu..
    Tak dapat kusangsikan..
    Generasi muda tak lagi seperti dulu..

    Dulu.. mereka gigih..
    tak pernah lelah menggapai ambisi..
    Dulu.. mereka peduli..
    tak pernah lelah mencari pamrih.

    Namun.. saat ini semua berubah..
    menjadi anak bangsa yang tak tahu apa-apa..
    Tak pernah mau gigih..
    Selalu saja mengharap pamrih..

    Wahai generasi muda..
    Tidakkah kalian merasa malu..
    Malu terhadap bangsa..
    Malu terhadap nusa dan bangsa..

    Wahai anak-anak bangsa..
    Berubahlah!
    Pertahankan moral dan asa..
    Demi Indonesia yang merdeka..

    Palembang, 2 Oktober 2009

    ______________________________________

    Sepeda Ilmu
    Oleh: Novianti Dewi Astri / 36

    Ketika Sang Surya mulai mengadu..
    Kau gayuhkan sepeda tuamu..
    Menyusuri liku penuh sendu..
    Hanya senyum yang terus tersipu..

    Betapa gigihnya perjuanganmu..
    Tak pernah letih dan jemu..
    Tak pernah lelah menyambut ilmu..
    Ilmu yang selalu bernaung di dahimu..

    Guru..
    Beribu asa yang kau berikan..
    Berjuta kasih yang kau tanamkan..
    Bertahta dirimu dalam ingatan..

    Guru..
    Kadang tersirat di wajahmu..
    Lelah dan peluh..
    Tapi kau tutup dengan senyummu..

    Guru..
    Terimalah kasihku..
    Takkan ku sia-siakan..
    Apa yang telah kau berikan..

    Palembang, 2 Oktober 2009

    #19 Alviony
    Spoiler:

    Merajut Negeri Merah Putih

    Karya:Alviony Evelyn(XII IPA 5/03)

    Aku berjalan di tengah hampa kehidupan..

    Tanpamu..
    Aku tak kan ada

    Tanpamu..
    Aku bukanlah siapa-siapa

    Diri ini..
    Meneteskan air mata setiap kali mengingat dirimu

    Hati ini..
    Tergetar setiap kali menatapmu

    Jantung ini..
    Berdetak tak menentu ketika memegangmu

    Kurasakan..
    Derita yang dulu kau rasakan seketika itu

    Kupahami..
    Makna yang kau perjuangkan selama ini kau rasakan

    Semangat yang kau rasakan dulu mengalir di dada ini

    Merah putih,
    Kan kujaga,
    Kan kubela selalu
    hingga kututup mata ini

    Palembang,2 Oktober 2009

    Keyakinanku

    Karya:Alviony Evelyn (XII IPA 5/03)

    Kasihmu..
    Begitu agung yang Kau berikan padaku
    Begitu besar Kau serahkan untukku

    Cintamu..
    begitu tulus padaku

    Tak kan pernah ada
    Tak kan mungkin ada
    Tak kan ada yang bisa

    Hanyalah..
    DiriMu Tuhan

    Hanyalah..
    DiriMu yang dapat melakukannya

    Hanyalah..
    DiriMu yang mempunyai kuasa untuk segalanya

    Aku akan selalu percaya
    Aku akan selalu Berdoa
    Aku akan selalu berada di dalam ajaranMu

    Karena,
    Kuyakini bahwa diriMu itu nyata dan akan selalu ada untukku

    Palembang,2 Oktober 2009

    #20 Elini
    Spoiler:

    Momentum Revitalisasi
    Karya: Elini Febriani/16/XII.P5

    Merdeka…
    Merdeka…
    Merdeka…

    Tangis penuh haru menghiasi tawa rakyat
    Secercah harapan kembali muncul ke permukaan
    Apa yang mereka perjuangkan telah mereka dapatkan
    Semua pengorbanan tidaklah sia-sia

    Bersatu untuk merdeka
    Merdeka untuk Satu
    Tak pernah henti mereka ucapkan
    Tak pernah lelah mereka teriakkan

    Cukup sudah tumpah darah
    Jangan ada lagi korban jiwa
    Cukup sudah duka lara
    Jangan ada lagi pertempuran

    Tonggak sejarah yang menyatukan rakyat,
    kini pudar keberadaanya
    Jasa pahlawan yang tak ada batasnya,
    kini hilang maknanya
    Masyarakat lupa akan jati dirinya
    Mereka lupa darimana asalnya

    Momentum revitalisasi harus kembali didapatkan
    Makna kepahlawanan jangan lagi terdegradasi
    Bangsa ini tidak boleh di kucilkan
    Bangsa ini harus kembali berdiri kokoh

    Majulah terus Indonesia….
    Jangan jatuh dalam keterpurukan
    Jadilah bangsa yang mendunia
    Kenanglah s’lalu
    momentum revitalisasimu

    Palembang, 2 Oktober 2009

    -------------------------------------------------------------------------------------

    Kau
    Karya: Elini Febriani/16/XII.P5

    Lihat pengemis itu…
    Apa yang kini kau rasakan…
    Lihat orang cacat itu…
    Bagaimana perasaanmu…

    Kau….
    Kau terlahir sempurna
    Tapi mereka…
    Mereka hina dan dikucilkan
    Mereka dicaci maki dan di buang

    Pernahkan terpikir olehmu
    Mereka menjalani hidupnya dengan sukacita
    Tidak ada keluh kesah
    Tidak ada ragu dan bimbang

    Sedangkan kau…
    Kau mengeluh dan mengeluh
    Kau tidak pernah bersyukur
    Cobalah kau pandangi mereka
    Cobalah kau sayangi mereka

    Jangan terus menyesali hidupmu
    Jangan terus menyalahkan Tuhan Allahmu
    Cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri
    Syukuri apa yang ada jangan pernah disesali

    Hidupmu akan berharga….
    Apabila kau menyayangi mereka
    Apabila kau menghargai mereka
    Apabila kau menuntun mereka

    Palembang, 2 Oktober 2009

    #21 David
    Spoiler:

    Pahlawan Tanpa Pamrih

    Guru…..
    Sungguh besar perjuanganmu
    Engkau torehkan semua kekuatan
    dan kemampuanmu
    Engkau memberikan semua kemampuanmu
    kepada anak yang masih polos
    yang tidak mengenal permasalahan hidup

    Dirimu sungguh mulia dihadapan
    anak-anak ajarmu
    Engkau bagaikan sosok orangtua
    yang selalu memberikan perhatian
    Setiap saat ketika mereka susah
    kesabaranmu benar-benar berarti

    Guru…
    Setiap kata yang terucap dari mulutmu
    merubah semua sikap dan perilaku muridmu
    Setiap tetes keringat yang berucucur
    kesuksesan yang didapat dari muridmu
    Sungguh besar kepedulianmu

    Cercaan demi cercaan terus datang kepadamu
    Cercaan mereka yang tidak sadar
    akan perjuanganmu
    Kesabaranmu benar diuji
    Engkau hanya menerima dengan senyuman
    Ketegaranmu sungguh besar

    Guru…..
    Kata pantang menyerah telah Engkau
    camkan dalam hatimu yang paling dalam
    Engkau berjanji untuk memberikan yang terbaik
    demi menghasilkan murid yang berkualitas
    dan berguna bagi nusa dan bangsa

    Palembang, 2 Oktober 2009

    ------------------------------------------------

    Nasib Anak Jalanan

    Langkah kaki setiap hari
    mengiringi setiap sudut lampu merah Kota
    Bahaya selalu di hadapan mata
    Menghampiri setiap ada kesempatan
    Takut tidak ada dalam kamus mereka
    Pemberani yang mereka pegang
    untuk menghadapi kerasnya kehidupan

    Baju lusuh dan berlubang
    terpakai di tubuh mereka
    Papan kayu dengan gitar
    menjadi pelengkap dalam bekerja
    Bermodalkan suara
    mereka berusaha untuk memenuhi
    kebutuhan sehari-hari

    Tetes keringat bercucuran
    sepanjang hari
    Selalu uang logam yang didapat
    Mereka hanya tersenyum
    seakan membalas terima kasih
    mereka

    Seorang bayi berada dipelukan anak kecil
    Sungguh prihatin melihatnya
    Bayi yang masih sangat membutuhkan
    kasih sayang orangtuanya
    malah harus menemani dalam mencari
    uang

    Mereka memang tidak sadar
    menggunakan anak kecil untuk
    memenuhi kebutuhan mereka
    Anak kecil hanyalah manusia polos yang
    tidak mengerti akan susahnya hidup
    Yang mereka butuhkan adalah pendidikan
    setinggi-tingginya

    Benar-benar prihatin
    Melihat anak kecil berlarian
    di tengah padatnya kota
    Tidak dapat dipungkiri lagi
    semua itu terjadi di negeri
    kita tercinta ini

    Palembang, 2 Oktober 2009

    #22 Frederica
    Spoiler:

    Tikus Berdasi

    Ketika kekuasaan sudah jadi harga mati
    Terkuaklah dirimu yang sebenarnya
    Segala janji manis hanya jadi samapah
    Ribuan rakyat menanggung derita

    Tangis derita anak bangsa kian menjadi
    Tapi kau malah berlari
    Sembunyikan perut buncitmu

    Hanya rupiah yang jadi saksi bisu
    Keserakahan di balik senyumanmu
    Masihkah ada nurani yang tersisa?
    Akan jeritan rakyat jelata yang tersiksa

    Persetan rakyatmu susah
    Kau tetap menutup mata
    Kau butakan moralmu
    Demi sebuah harta kekayaan

    Hilang sudah harapan kami
    Pemimpin bangsa hanya tikus berdasi

    Palembang, 2 Oktober 2009

    ---------------------------------------

    Hilangnya Hutanku

    Zamrud khatulistiwa telah ternoda
    Kilauannya tak lagi seperti dulu
    Hijau yang kulihat telah berbeda
    Berubah menjadi tak berwarna

    Pesona hutanku lenyap
    Digantikan sekumpulan tiang-tiang berasap yang berdiri loyo
    Bau hutanku tak lagi segar
    Digantikan bau busuk yang tercemar

    Ku rindukan kembali hijauku
    Suatu kebanggaan bangsaku
    Tempat bernaung berbagai kehidupan
    Menjadi sumber akan kenangan

    Kami merana
    Jika banjir menghampiri
    Kami merana
    Akan panasnya matahari
    Semua karna tanpamu
    Hijau hutanku

    Palembang, 2 Oktober 2009

    #23 Riska
    Spoiler:

    Gores Tinta Emas

    Karya : Riska Utami (40)

    Gores tinta emas ...
    yaitu rumus yang berharga
    adalah istilah yang bermakna
    merupakan lukisan yang berwarna

    Gores tinta emas ...
    untuk anak yang tak mudah putus asa
    untuk remaja yang bersemangat
    untuk orang yang bekerja keras

    Gores tinta emas ...
    melahirkan berjuta mimpi
    mewujudkan berjuta cita
    menghasilkan berjuta kebahagiaan

    Gores tinta emas ...
    akan semakin berkilau
    di lembar-lembar pengetahuan

    Gores tinta emas ...
    akan semakin indah
    di neuron-neuron otak

    Gores tinta emas ...
    akan semakin bercahaya
    dalam kehidupan nyata


    Nilai Sebuah Kejujuran

    Karya : Riska Utami (40)

    Kejujuran kini sangatlah jarang
    hanya untuk sebatang cokelat
    tak hanya mereka yang tua
    anak kecil pun sekarang dapat berkata bohong

    Kejujuran kini sangatlah mahal
    hanya untuk setumpuk uang
    mereka yang berhati lembut pun berubah menjadi srigala
    menipu orang disekitarnya

    Kejujuran kini sangatlah berarti
    hanya untuk sebuah cinta
    para Adam akan berkata gombal kepada para Hawa

    Kejujuran kini tak lagi dipercaya
    terlalu banyak mereka yang berkata bohong
    hingga orang berkata benar pun
    dianggap pembual

    Suatu saat nanti
    ketika bumi ini dipenuhi manusia-manusia pembohong
    ketika tak ada lagi perkataan yang jujur
    ketika kejujuran musnah , lenyap tak bersisa
    entah bencana apa yang akan Tuhan berikan .....

    #24 Aulia
    Spoiler:

    Terima Kasih Guru
    Karya : R. A. Aulia Safira (XII IPA 5/38)

    Guru
    Ingatkah kau
    Saat pertama kali kau ajarkan kami membaca
    Saat pertama kali kau ajarkan kami menulis
    Sungguh indah saat-saat itu
    Masih kuingat ekspresi wajahmu
    Senyuman dan tawamu
    Begitu pula kesabaranmu mengajarkan kami

    Sungguh besar jasa dan pengorbananmu
    Kau pun rela mengabdikan waktu dan hidupmu
    Demi kami, para muridmu yang masih buta akan ilmu
    Kamu mengajarkan apa yang kami tak tahu
    Apa yang belum kami mengerti
    Engkau berikan semua yang kau tahu

    Guruku
    Hidupmu sungguh mulia
    Kau mendidik kami tanpa kenal lelah
    Tanpa mengharapkan pamri sedikitpun
    Kan kukenang selalu dirimu guruku
    Kan ku ukir pengabdianmu di dalam hatiku
    Terima kasih guruku

    Palembang, 2 Oktober 2009

    ………………………………………………………………….

    Rakyat Kecil
    Karya : R. A. Aulia Safira (XII IPA 5/38)

    Sesaat aku tersadar dari lamunan
    Lalu kumengerti akan sesuatu
    Dari sudut pandang ini
    Kulihat sebuah ketidakadilan
    Dari pihak kalian wahai para pemimpin bangsa
    Para koruptor
    Para pemain kotor

    Kalian mungkin bersenang-senang di sana
    Tertawa bahagia
    Menghabiskan seluruh harta yang kalian dapat
    Kalian menari di atas penderitaan para rakyat kecil
    Yang seharusnya kalian lindungi

    Sadarkah kalian bekerja untuk siapa ?
    Sadarkah kalian harta yang kalian terima itu hak siapa ?
    Sadarkah kalian kewajiban kalian itu apa ?
    Kalian hanya bias memberikan janji-janji palsu
    Tanpa bukti konkret seperti yang rakyat kecil pinta

    Kutanyakan satu hal pada kalian
    Tak tergerakkah hati kalian ?
    Melihat para rakyat kecil
    Mengais dan meminta hanya untuk mendapatkan sesuap nasi
    Menjerit dan meminta pertolongan dari kalian
    Tak merasa bersalahkah kalian ?

    Dimana perasaan kalian ?
    Dimana bukti janji-janji yang dulu kalian ucapkan ?
    Dimana seluruh jaminan yang seharusnya kalian berikan ?
    Semua itu hanya omong kosong
    Hanya sampah
    Seperti kalian, para koruptor

    Palembang, 2 Oktober 2009

    #25 Emil
    Spoiler:

    Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
    Oleh: Emil Eviliana
    XII IPA 5/17

    Di kala udara masih berselimuti kabut,
    mentari pun masih enggan
    menampakkan diri
    bagaikan putri malu
    Nun jauh di sana,
    tampak sesosok tubuh kurus tinggi
    berjalan dengan lunglai
    sambil menuntun sepeda tuanya
    melalui jalan – jalan yang dipenuhi
    pepohonan rindang yang setia
    menyapanya tiap pagi
    Langkah demi langkah,
    ia kayuh sepedanya
    tanpa mengenal lelah
    walau tetes keringat membasahi wajahnya

    Terdengar dari kejauhan,
    suara canda tawa
    bocah – bocah polos tanpa dosa
    menyambut penuh riang
    Hingga rasa letih pun hilang,
    hanya tersisa tekad
    yang tersirat di wajahnya,
    ingin cerdaskan anak didiknya,
    songsong masa depan nan gemilang

    Guru,
    betapa mulia hatimu
    Engkau mendidik anak – anak
    dengan sabar dan tulus
    tanpa pikirkan hidupmu
    Walau penghasilan yang engkau dapat
    tak segemilang tekadmu
    Engkau tak pernah keluhkan itu

    Guru,
    terpujilah namamu
    Namamu akan selalu hidup
    dalam sanubari bocah – bocah polos
    Pengabdianmu,
    begitu tulus dan luhur
    Semangatmu
    bagai dian tak kunjung padam
    Engkau patriot pahlawan bangsa
    tanpa tanda jasa

    ----------------------------------------

    Sang Penjajah Suara Jalanan
    Oleh: Emil Eviliana
    XII IPA 5/17

    Dengan gitar tua nan usang,
    ia sambut hari yang cerah
    walau tak secerah hidupnya
    Ia mulai menelusuri jalan – jalan
    yang dipenuhi gedung pencakar langit
    seolah mengejeknya angkuh
    Dengan pakaian nan kusam,
    berpeluh keringat serta debu,
    beralaskan terompah usang,
    tanpa mempedulikan deru kendaraan
    yang membisingkan telinga
    ia melangkah dengan pasti

    Mulailah ia menyuarakan hatinya
    mewakili ribuan rakyat kecil
    yang menjerit memohon keadilan
    di tengah deru kendaraan
    yang dipenuhi orang – orang berdasi
    Dengan suara lantang, ia berharap
    dapat mengetuk pintu hati mereka
    Bukan kepingan logam
    yang ia terima,
    cibiran, cacian, tawa ejekan
    yang ia dapatkan
    Semua itu ia terima
    dengan penuh rasa syukur


    Dengan menahan lapar dan dahaga,
    ia kembali menyuarakan hatinya
    Berharap bukan hanya
    kepingan logam yang ia dapat
    melainkan rasa peduli
    terhadap rakyat kecil seperti kami ini
    Bukan salah bunda mengandung,
    tapi nasib baik
    tak berpihak pada kami

    Palembang, 2 Oktober 2009

    #26 Virginea D. J.
    Spoiler:

    Seorang pembawa kebenaran

    Karya : Virginea D.J. (44)

    Lembaran masa lalu pun terbuka kembali
    Banyak tersimpan kenangan para pejuang bangsa ini
    Terpikir betapa pahitnya dunia yang fana ini
    Banyak orang membunuh, memfitnah dan menyiksa orang yang tak bersalah

    Para pejuang bangsa
    Semua pengorbanan tlah kau lakukan demi bangsa ini
    Pantang menyerah , pantang lelah
    Menghadapi penjajah

    Yakin akan bangsa ini akan berdiri
    Yakin bangunkan nusa yang hebat
    Dihormati dan diakui orang
    Atas kekuatan aneka macam

    Tahun demi tahun pun menepi
    Lahir lah pembawa kebenaran
    Menerangi dunia yang gelap
    Seorang pembawa kebenaran

    Seorang pembawa kebenaran
    Mambawa kita ke tempat yang lebih baik
    Tempat yang penuh dengan kesenangan dan kebaikan
    Dimana kita dapat tersenyum bahagia

    ------------------------------------------------

    Kau yang Terbaik

    Karya : Virginea D.J. (44)

    Cinta adalah suatu hal yang kompleks
    Apakah aku sedang jatuh cinta ?
    Aku juga tak begitu tahu

    Aku tahu ia jatuh cinta kepadaku
    Semua hal yang ia katakan
    Ia jatuh cinta padaku

    Andai saja aku tahu apakah aku sedang di landa cinta
    Hidup itu kompleks
    Dipenuhi dengan hal- hal yang kompleks

    Apakah itu cinta ?
    Apakah ia tahu ?
    Aku yakin ku tak tahu.

    Aku berharap ia tahu apa artinya
    Aku berharap aku tahu apa yang ia pikirkan tentang cinta
    Terlalu banyak arti cinta

    Aku berpikir aku sedang jatuh cinta
    Tapi aku tak yakin
    Akan lebih mudah jika aku dapat menjelaskannya pada diriku

    Hatiku , pikiranku dan emosiku
    Mereka membuatku bingung
    Aku berharap aku dapat mengetahui apa yang sedang kurasakan

    Maafkan aku
    Maafkan atas semua yang telah kuperbuat
    maafkan atas ketidak jelasan atas diriku

    Aku sangat memperhatikanmu
    Hanya itu yang aku tahu
    Aku tak tahu tentang yang lain

    Hidup itu sangat kompleks
    Sekompleks cinta
    Dan itu adalah sesuatu yang tak dapat pernah berubah

    Aku senang kau mengerti
    Aku membutuhkan seseorang sepertimu dalam hidupku
    Berharap kau tak akan pergi

    Karena semua
    Semua yang tlah aku perbuat
    Kau masih peduli, kau masih disini, kau masih mencintaiku

    Kau adalah yang terbaik
    Aku berharap aku tahu
    Aku harap aku tahu banyak tentang apa yang aku tak tahu

    Palembang, 02 Oktober 2009

    #27 Rina
    Spoiler:

    PUISI KRISIS MORAL GENERASI MUDA

    Karya : Rina (XII IPA 5 / 39)

    Negeriku dengan sejuta pesonanya
    Dengan beraneka ragam budaya dan bahasanya
    Mengajarkan dan menanamkan berbagai hal
    dalam hidupku
    Darimu aku belajar
    Darimu aku berkembang

    Tapi kini semua berbeda
    Semua telah berubah
    Generasi penerus bangsa tak lagi sama
    Caramu bertutur kata,
    Caramu bersikap
    Bagaikan dua kutub yang berbeda

    Dulu
    Bercita-cita membahagiakan ibu dan ayah
    Menghargai orang lain
    Bertutur kata yang halus
    Berprilaku santun
    Namun apa yang terjadi dengan semua itu
    Bahagia digantikan dengan air mata
    Rasa hormat habis kau injak-injak
    Prilakumu layaknya banteng

    Pernakah terpikir olehmu
    Angan dan asa ayah ibumu
    Harapan bangsa akan kepedulianmu
    Pandangan seluruh dunia melihat tingkahmu
    Di mana rasa malumu
    Ke mana kau buang semua ilmu
    Bagaimana pertanggung jawabanmu kepada-Nya

    Sadarlah kawan
    Tak ada yang abadi di dunia ini
    Hidupmu pun tidak
    Pikirkanlah dan renungkanlah
    Nafas kehidupan yang diberi
    Semua yang kau miliki
    Tak pernah kau hargai

    Kembalikan semua seperti semula
    Negeri dengan sejuta pesonanya
    Dengan beragam bahasa dan budayanya
    Namun tetap satu
    Dengarkan kata hatimu
    Agar dunia tak lagi bercela dan palsu

    ------------------------------------------

    PUISI PENDIDIKAN

    Karya : Rina (XII IPA 5 / 39)

    Beratapkan jerami
    Beralaskan tanah
    Kau teramat rapuh, namun tetap mulia
    Terpaan angin dan hujan membuatmu goyah
    Namun saat itu lah semakin kokoh kau coba tuk berdiri

    Pagi yang cerah disambut dengan senyum manismu
    Senyum bahagia dapat menjadi tempat berbagi ilmu
    Tempat para generasi penerus dibina
    Dan mandapat ilmu yang berguna

    Belajar tak harus di sekolah mewah
    Kecerdasan tak terbatas hanya pada kekayaan
    Anak kecil menangis di pinggiran kota
    Merenggek ingin sekolah
    Tapi apa daya orang tua
    Tak ada kemampuan untuk mewujudkan

    Dunia kini telah berubah
    Guru tak lagi ditiru
    Bahkan murid tak lagi berotak
    Tak ubahnya kerbau dungu yang mudah diadu

    Palembang, 2 Oktober 2009

    #28 Adrianus P.
    Spoiler:

    Harapan

    Karya: Adrianus P./XII IPA 5/02

    Tuhan
    Engkau selalu menemani kami
    Pada saat senang
    Maupun saat sedih

    Kami umatmu
    Hanya dapat berserah diri
    Dihadapanmu
    Yang mengatur jalan hidup umatmu

    Tuhan
    Bimbinglah kami dalam rahmatmu
    Agar umatmu terbebas dari dosa
    Dan menuju jalan yang lebih baik

    Palembang, 2 Oktober 2009

    -------------------------------------

    Negeriku Indonesia

    Karya: Adrianus P./XII IPA 5/02

    Pagi buta aku terbangun
    Memulai kegiatan hariku
    Berawal dari sebuah negeri
    Disini, negeriku, Indonesia

    Indonesia
    Negeri yang kucinta
    Dengan beribu-ribu pulau
    Terbentang dari Sabang sampai Merauke

    Dihuni berjuta-juta orang
    Kau dukung kehidupan mereka
    Dengan tanahmu yang subur
    Dan hutanmu yang hijau

    Tetapi sekarang
    Gunung tidak berambut
    Kejahatan dimana-mana
    Apa yang terjadi
    Pada negeriku tercinta, Indonesia?

    Palembang, 2 Oktober 2009

    #29 Melisa Octavia
    Spoiler:

    Narkoba yang Menipu
    Karya : Melisa Octavia /34

    Narkoba..
    Ia memang memberikan kenikmatan
    Ia memang menawarkan kesenangan di kala orang berduka
    Ia memang membangkitkan semangat di kala orang putus asa
    Dan ia memang membuat orang elupakan semua masalah yang ada
    Tetapi …..
    Kenikmatan yang ia berikan hanyalah semu belaka
    Kesenangan yang ia tawarkan berujung petaka
    Semangat yang ia bangkitkan akan sirna dengan mudahnya
    Hingga akhirnya ia hanya menimbulkan masalah
    Masalah yang merusak kehidupan moral dan mental generasi muda
    Oleh karena itu……
    Wahai generasi muda, jauhilah narkoba !
    Jangan Engkau dibutakan karenanya
    Ingat……
    Karena nila setitik rusak susu sebelanga
    Karena narkoba sedikit rusak hidup selamanya….

    Palembang, 2 Oktober 2009

    ---------------------------------------------------

    Indahnya Pendidikan
    Karya : Melisa Octavia /34

    Pendidikan ……
    ia seharusnya tidak pernah datang terakhir
    melainkan harus selalu datang pertama
    Pendidikan ……
    membawa Anda ke tempat yang sangat tinggi
    Tidak akan membawa Anda hidup tanpa jaminan
    Tetapi membawa Anda menemukan kehidupan yang lebih baik
    Tanpa pendidikan kita hanya berada di jalan tanpa tujuan
    Pendidikan ……
    mengajarkan kita bagaimana menjadi hebat
    Tanpa pendidikan ,
    Kita tidak akan pernah mencapai pengetahuan
    Melainkan akan tetap bodoh
    Dalam masa ini,
    Pendidikan sering terlupakan,
    Pendidikan menjadi beban,
    Dan sebenarnya,
    pendidikan adalah apa yang Anda kurang
    Tanpa Pendidikan tidak ada awal
    Tanpa pendidikan membuat kita kalah bukan menang
    Wahai para remaja ,
    Tunjukan pada bangsa kita
    Jadilah penerus bangsa yang kaya akan ilmu…

    Palembang, 2 Oktober 2009

    #30 Christo
    Spoiler:

    Doa Seorang Anak Terlantar
    Karya: Christoforus Sugito / 11

    Tuhan
    Aku sungguh berterima kasih pada-Mu
    Sebab hari ini banyak yang mengasihani aku
    Sungguh aku malu menjalani hidup seperti ini
    Hidup dengan tangan di atas

    Tapi apa dayaku
    Tak ada yang bisa kulakukan
    Ku hanya bisa terus meminta-minta
    Agar tak dimarahi papa mama

    Aku sungguh merasa kesepian
    Di saat anak seumuranku menggali ilmu
    Aku di jalanan yang ramai
    Mengemis untuk mendapatkan sesuap nasi

    Tuhan
    Kata mama, aku akan mempunyai seorang adik
    Bisakah Engkau jangan memberinya padaku, Tuhan?
    Karena mama papa sudah tidak mempunyai waktu lagi
    Untuk mengurusiku saja sudah tidak sempat
    Bagaimana dengan nasib adik nanti?

    Tuhan
    Adik jangan dikirim ke sini
    Walau adik belum lahir
    Saya sangat sayang kepada adik
    Tangan kecilku mungkin tak akan kuat menggendongnya
    Dan juga aku tidak mau nanti adik dipukuli seperti aku

    Tuhan
    Bisakah adik kau berikan ke tempat yang lain?
    Aku tidak mau adik menjadi seperti aku
    Bau, jorok, dan kumal
    Karena papa mama sering lupa mengajakku mandi dan mengganti baju

    Juga karena aku tidak mau adik kelaparan
    Untuk makan kami bertiga saja sudah susah
    Bagaimana bila ada adik?

    Palembang, 3 Oktober 2009

    __________________________

    Pahlawan
    Karya: Christoforus Sugito / 11

    Aku hanyalah pria biasa
    Aku melakukan apapun demi kemerdekaan bangsaku
    Meski apa yang kulakukan benar
    Tak berarti ketakutan tak melanda diriku

    Meski aku ketakutan
    Kepedulianku membangkitkan hati kecilku
    Aku mungkin saja bisa mati
    Namun aku tahu
    Aku tak bisa diam bertopang dagu

    Lama kelamaan
    Maut yang ada di depan mataku
    Menjadi hiburan bagiku
    Bila aku mampu melaluinya

    Namun tidak untuk teman-temanku yang mati
    Sungguh pilu untuk kehilangan sebuah teman
    Tapi apa daya
    Semuanya kami lakukan untuk mencapai kemerdekaan

    Hari-hariku dihiasi pembantaian
    Diperindah dengan bunga api
    Sungai darah menjadi pemandangan yang biasa bagiku
    Tak jarang aku ikut mengalirkan darahku di sungai itu

    Namun semangat juangku tak akan runtuh
    Aku yakin
    Suatu saat nanti
    Bambu runcing ini akan mampu menghantarkan bangsaku menuju kemerdekaan

    Entah kapan
    Aku tak tahu

    Palembang, 3 Oktober 2009

    #31 Jimmy
    Spoiler:

    Kursi Haus Kekuasaan
    Karya Jimmy / 26 / XII IPA 5

    Sempat ku lihat ia begitu berharga
    Dari kejauhan begitu mempesona
    Ingin duduk di atasnya

    Kini kulihat....
    Ia telah diduduki
    Aneh...
    Tapi selalu didamkan
    Siapa duduk disana?

    Setahuku semua orang punya kepedulian
    Namun semua berubah...
    Setelah orang duduk disitu

    Haus....Haus....dan haus....
    Bahkan takkan pernah puas
    Kenapa demikian

    Semua tlah berubah di tahta birokrasi
    Mungkin suatu saat ada yang bisa mengubahnya
    Dan menundukkan Sang Kursi yang haus Kekuasaan

    -----------------------------------

    Teguran Alam
    Karya Jimmy / 26 / XII IPA 5

    Kau tegur kami...
    Dengan membawa bencana besar
    Untuk menyadari kami
    Kau kirimi kami banjir bandang dan longsor
    Kau hanyutkan sisa kerakusan
    Menggelamkan desa dan kota
    Mengirimkan iklim yang berbeda

    Teguranmu membuat kami mulai sadar
    Kami yang telah melukaimu
    Dan yang telah tak pedulikanmu

    Alam....
    Maafkan kami ini
    Biarkan kami membalas budi
    Maukah kau bersahabat dengan kami

    Alam....
    Selama ini kau telah banyak memberikan kami kehidupan
    Tapi....
    Kami tidak pernah menghargaimu
    Seakan kau tidak ada gunanya bagi kami
    Namun, sekarang kami mengerti
    Akan kebutuhanmu

    Kami berjanji untuk tidak melukaimu lagi
    Kami mulai mencintai wajahmu yang hijau berseri

    Kami datang membawa biji bijian
    Kami datang untuk merawatmu dengan kasih sayang
    Melindungimu dari pembalakan liar
    Karena hidupmu yang terlindungi
    Membuat kani bernafas lagi

    Palembang, 3 Oktober 2009

    #32 Fernando
    Spoiler:

    Semangat bambu runcing
    Karya : Fernando/20

    Terang telah berubah menjadi gelap
    Petang menjadi malam
    bulan menggantikan matahari
    mungkin...
    saat itulah
    saat yang engkau nantikan
    saat dimana engkau dapat meneruskan perjalanan panjangmu
    perjalanan meraih kemerdekaan...

    Ya...
    aku tahu...aku mengerti
    hanya soal gelaplah
    engkau dapat maju berperang
    dan...
    bersama bambu runcing serta tekad teguh kau menyerang para penjajah
    demi kemerdekaan bangsa ini
    tanpa sedikit pun rasa takut dihatimu tuk membasmi penjajah

    hari harimu selalu penuh perjuangan
    tak jarang pula tubuhmu ditembus timah panas
    dan tak jarang pula darah bercucuran dari tubuhmu
    namun hal itu tak menjadi penghadang bagimu
    untuk berjuang merebut kemerdekaan bangsa
    tak ada yang dapat meruntuhkan semangatmu
    meskipun tubuh telah rebah di atas tanah
    meskipun tubuhmu telah tertimbun tanah
    semangat juangmu selalu membara dihatimu

    Kini...
    bangsa ini telah merdeka
    bangsa ini tak lagi sengsara
    bangsa ini telah berdiri sendiri
    semua berkat pengorbananmu
    oh... pahlawanku

    terima kasih kuteriakkan padamu oh...pahlawanku
    tanpamu tak akan ada kemerdekaan di bumi pertiwi ini
    tanpa kegigihanmu tak akan pernah kami rasakan arti kemerdekaan
    hanya dengan perjuanganmulah, Indonesia dapat tehantar ke dalam istana kemerdekaan

    Palembang, 3 Oktober 2009

    ------------------------------------------------

    Tangisan Berselimut Tanah
    Karya : Fernando / 20

    Sore hari yang tenang
    Seketika menjadi hari yang garang
    Guncangan tanah dimana-mana
    Menggemparkan seluruh jiwa raga

    Runtuhan bangunan berdampak sengsara
    Membawa petaka yang merajalela
    Seketika tangisan seluruh orang pecah
    Menangisi kesedihan berselimut tanah

    Malam gelap telah datang
    Angin malam berhembus kencang
    Membawa seberkas ratapan sedih
    Melalui debu berselimutkan tanah

    Tiada lagi tawa bahagia
    Menyelimuti tidur mereka
    Jutaan nyawa melayang
    Diratakan tanah gersang

    Oh korban gempa…
    Kembalilah tersenyum bahagia
    Tetaplah bersemangat tinggi
    Menanggapi hari esok yang lebih baik

    Palembang, 3 Oktober 2009

    #33 Viktor
    Spoiler:

    Malaikat Hatiku
    Karya : Vinsensius Viktor Limas / 43

    Ku tahu ku takkan dapat sembuhkan luka hatimu
    Atau hilangkan rasa sakit itu
    Tapi, biarkanlah ku tinggal dan meraih tanganmu
    Tuk temani harimu

    Aku akan mendengarkan semua keluh kesahmu
    Mencoba hapuskan air matamu
    Aku akan hilangkan kekhawatiranmu
    Mencoba menghadapi rasa takutmu
    Aku ada disini dan selalu disini
    Untuk selalu bersamamu

    Cinta yang kurasakan ini
    Takkan pernah terhapuskan
    Karena kau adalah permata di hidupku

    Aku akan selalu bersinar
    Untuk menerangi jalanmu
    Menuju hatiku yang setia menanti
    Dimana kau kan tinggal selamanya

    Kau seperti mawar yang semerbak
    Membuatku nyaman ketika angin musim dingin bertiup
    Kau menghangatkan hidupku dengan pesona dan keanggunanmu
    Hatiku akan menjadi tempat tinggalmu selamanya

    Kumencintaimu dengan segenap hatiku
    Sepenuh jiwaku dan segala ragaku
    Sejak kehadiranmu di hidupku
    Hidupku menjadi sempurna dan seutuhnya

    Cinta yang kau brikan ini
    Aku tahu ini tak akan pernah berakhir
    Maka kupersembahan seluruh hidupku kepadamu
    Malaikat hatiku….

    Palembang, 3 Oktober 2009

    _______________________

    Perjuangan Menuju Kebebasan
    Karya : Vinsensius Viktor Limas / 43

    Kami sangat menghormati hari itu
    Prajurit-prajurit yang melindungi bangsa ini
    Untuk pengabdian mereka sebagai pahlawan kami
    Mereka layak untuk dikagumi

    Bagi sekelompok orang, itu baru saja terjadi kemarin
    Bagi sekelompok orang, itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu

    Di hutan atau padang pasir,
    Di daratan atau di laut,
    Mereka melakukan apa pun yang ditugaskan
    Untuk menghasilkan kemenangan

    Banyak yang pulang kembali, banyak pula yang tidak
    Mereka membela kita dimana-mana
    Ada yang bertempur ; ada yang berdiplomasi
    Mereka telah mengambil bagiannya masing-masing

    Tidak peduli apapun tugas itu
    Tanpa bayaran dan secercah kemuliaan
    Mereka memberikan kehidupan yang normal kembali
    Demi tugas mulia dan duniawi

    Biarkan setiap pahlawan dihormati
    Jangan biarkan politik merusaknya
    Tanpa mereka, tak akan ada kebebasan
    Apa yang telah mereka perbuat, tak dapat tergantikan

    Kita telah melihat semuanya
    Dan kita tidak boleh membiarkan hal itu terjadi kembali
    Mengabdikan hidup kita demi kebebasan ini
    Kita akan lawan segala bentuk ancaman
    Untuk melindungi bangsa ini
    Untuk melindungi apa yang kita sayangi

    Maka, mari kita bersatu kembali
    Untuk menaklukkan musuh baru kita
    Apapun yang harus dilakukan
    Kemanapun kita harus pergi

    Mari kita tunjukkan kepada dunia sekali lagi
    Bahwa bangsa ini
    bangsa yang memiliki semangat patriotisme!

    Palembang, 3 Oktober 2009

    #34 Stefani Gunawan
    Spoiler:

    Lestari Bangsaku
    karya : Stefani Gunawan / 41

    Waktu terus berlalu
    begitu pula dengan kejayaan negaraku
    lambat laun mulai memudar
    menjadi negara terlantar

    Kini generasi muda harus berusaha
    dengan segala upaya membangun bangsa
    agar kembali berjaya
    layaknya negara merdeka

    Beribu upaya telah dilakukan
    berjuta semangat telah dikobarkan
    hanya demi mewujudkan
    negara nan penuh kesejahteraan

    Kini upaya generasi muda
    membuahkan hasil nan indah
    negara yang ku cinta
    telah kembali berjaya

    Biarpun impian telah diraih
    semangat bangsa jangan berhenti
    usaha keras harus terus dijalani
    guna mempertahankan harga diri

    ---------------------------------------

    Harapku dalam Cinta
    karya : Stefani Gunawan / 41

    Cinta adalah apa yang kurasakan padamu
    saat memikirkan dirimu
    dan membayangkan dirimu di sisiku
    tak dapat kuungkapkan kegembiraanku

    Sebelum bertemu dirimu
    aku bukan apa-apa
    sekarang aku sangat berharga
    semua karena dirimu

    Aku belajar arti sesungguhnya
    dari berbagi dan menyayangi
    aku belajar arti jatuh cinta
    dengan mencintai dirimu

    Tempat terindah di dunia adalah di sisimu
    Memiliki dirimu dalam hidupku
    dapat melengkapi dan memenuhi
    semua bagian hidupku

    Aku berharap
    suatu hari kau akan tahu
    betapa sempurnanya dirimu di mataku
    dan akan kuukir namamu di hatiku
    selamanya...

    Palembang, 3 Oktober 2009

    #35 Peniel
    Spoiler:

    GENERASI MASA DEPAN

    Karya : Peniel Benammi/ 37

    Ditengah berbagai krisis yang melanda negeri ini
    Jadikanlah engkau sebagai generasi harapan
    Bangkitkanlah negeri tercinta ini
    Dari keterpurukan di masa depan

    Di zaman yang semakin menggila ini
    Janganlah engkau takluk pada persaingan
    Semua baru akan di mulai di sini
    Ketika engkau hadir dan mengisi kekosongan

    Janganlah engkau krisiskan moralmu
    Justru persiapkanlah yang terbaik daripada dirimu
    Yakinlah bahwa engkau mampu
    Selagi engkau mau

    Ciptakanlah diri yang berpendidikan
    Berpikir jernih jauh ke depan
    Menjadi generesi andalan
    Bertutur dan bertingkah laku sopan

    Hilangkan kata pukul dari tingkah lakumu
    Hilangkan kata kibul dari tutur katamu
    Hilangkan kata cabul dari pikiranmu
    Maka jadilah engkau seperti harapanmu

    Sehingga hari esok tiada lagi ucapan
    Bahwa generasi masa depan
    Tak berpendidikan dan tak beriman
    Maka engkau tetap di berkati Tuhan

    Palembang, 3 Oktober 2009

    -------------------------------------------

    WAJAH PENDIDIKAN

    Karya: Peniel Benammi/ 37

    Mentari pagi yang menyilaukan
    Menyapa kita putra-putri Indonesia
    Dinginnya pagi seakan juga menantang kita
    Dalam menyongsong masa depan

    Di awali dengan penuh semangat
    Kita pergi menuntut ilmu
    Tak ada satu pun… satu pun!
    Yang dapat mengubah niat luhur

    Kita sudah berhasil selangkah
    Berhasil mengalahkan rasa malas
    Berhasil menjadi harapan
    Berhasil seperti yang kita inginkan

    Itulah yang bangsa ini harapkan
    Namun yang terjadi sebaliknya
    Kita sebagai anak bangsa justru mencoreng
    Merusak citra kita sebagai generasi penerus bangsa

    Tawuran seperti menjadi hal yang biasa
    Kenakalan remaja pun semakin parah
    Bukan menunjukkan prestasi
    Malah mencari sensasi dan gengsi

    Guru yang seharusnya menjadi panutan
    Justru ikut merusak nama harum pendidikan
    Menjadi mafia pendidikan
    Dengan mengorbankan citra baik pendidikan

    Kita adalah masa depan bangsa
    Kita adalah generasi penerus bangsa
    Tunjukkanlah jati diri berpendidikan
    Untuk masa depan bangsa yang lebih berkualitas

    Palembang, 3 Oktober 2009

    #36 Wandi
    Spoiler:

    Garuda Emas
    Karya : Wandi Wijaya / 45

    Dia adalah pejuang bangsa
    Terbang menembus langit nan tinggi
    Mengawasi hidup kotor tak berarti
    Cengkramannya membunuh tikus-tikus negara
    Dialah garuda, kebanggaan Indonesia

    Dia adalah penyelamat bangsa
    Mengitari samudera nan kelam
    Menjelajahi bumi pertiwi yang terluka
    Senantiasa melindungi anak-anaknya yang lemah
    Dialah garuda, kebanggaan Indonesia

    Tapi sekarang
    Dia hanya sekedar lambang
    Harumnya sudah dilupakan
    Semangatnya luntur dimakan waktu
    Menua, sakit, dan hampir mati
    Perlahan tapi pasti
    Negeri ini akan kehilangan putra-putri terbaiknya

    Kini hanya tinggal satu harapan tersisa
    Berharap kepada anak-anaknya, para generasi penerus bangsa
    Bukan sebagai pengganti tetapi penerus abadi
    Yang tetap mecintai segenap bangsa Indonesia
    Yang selalu memperjuangkan bangsa Indonesia

    Kini tidak hanya satu tujuan semata
    Berharap kepada anak-anaknya, para generasi penerus bangsa
    Bukan lagi menumpas serdadu bersenjata
    Melainkan menumpas kemiskinan dan kebodohan
    Menebarkan harum ke seluruh dunia
    Terbang tinggi layaknya seekor garuda
    Bukan mengikuti yang lama tetapi melahirkan
    Seekor garuda emas
    Yang tetap abadi hingga sepanjang segala masa

    ==================================

    Selamanya Cinta
    Karya : Wandi Wijaya / 45

    Ketika hujan lebat membasahi bumi
    Saat itu aku tersadar
    Hati sedang menangis
    Menangis deras tanpa henti
    Menenggelamkan cinta yang telah dijalani
    Menghanyutkan rasa yang telah terukir di hati

    Ketika hujan lebat turun ke bumi
    Laksana jutaan jarum kecil datang menyerang
    Saat itu aku tersadar
    Perkataanmu telah menusuk hati kecilku
    Membuat hati ini berlubang menyisakan duka

    Ketika suara hujan ikut meramaikan dinginnya hari
    Saat itu aku tersadar
    Hatiku memekik rintih
    Memecahkan kristal-kristal memori
    Mengingatkan bahwa kita sudah tidak bersama lagi

    Entahlah
    Sampai kapan hati ini mendung
    Sampai kapan air mata ini menetes
    Tapi hanya satu hal yang ingin kuungkapkan
    Walau kau dapat menghancurkan tubuhku dengan petir
    Tetapi kau tidak akan pernah bisa menghancurkan hatiku
    Yang selamanya ada dirimu
    Di mana aku akan tetap selalu mencintaimu


    Terakhir diubah oleh Exterminator Hexapoda tanggal Sat Oct 03, 2009 7:32 pm, total 1 kali diubah


    _________________
    Peace through technology.
    avatar
    Exterminator Hexapoda
    Guild Founder
    Guild Founder

    Posts : 68
    Join date : 18.09.09
    Location : Guild Heighliner

    Re: Back Up Puisi XII IPA 5

    Post by Exterminator Hexapoda on Sat Oct 03, 2009 6:37 pm

    #37 Anton Halit
    Spoiler:

    Kuasa Terindah

    Karya :Anton Halit (XII IPA 5/08)

    Indahnya langit biru
    Lautan yang membentang luas
    Dan gunung yang menjulang tinggi
    Semua adalah alam karya ciptaan Tuhan

    Kita sebagai manusia yang punya akal budi
    Salah satu makhluk ciptaan Tuhan
    Kita patut bersyukur
    Atas semua karunia yang telah diberi-Nya
    Tiada yang sempurna selain Tuhan

    Tapi kenapa banyak manusia yang tak tahu diri
    Banyak yang melupakan Tuhan

    Padahal Tuhan telah memberikan semua untuk kita
    Biarlah Tuhan yang Menghukum mereka
    Kita sebagai makhluk Tuhan
    Harus selalu mengingat Tuhan
    Dengan berdoa dan rajin ke tempat ibadah Tuhan akan selalu berada di dekat kita

    Palembang,3 Oktober 2009

    ------------------------------------------------------------

    Indonesiaku

    Karya :Anton Halit (XII IPA 5/08)

    Sejak tahun 1945
    Indonesia telah lepas dari penjajah
    Masa penjajah telah musnah
    Penderitaan telah terlewatkan
    Kejayaan telah d tangan kita

    Negeri yang telah kita raih dengan tumpah darah
    Harus kita cintai dengan segenap jiwa
    Tak boleh ada penghalang lagi untuk menghancurkan tanah air kita

    Enam puluh empat tahun
    Indonesia telah merdeka
    Mari kita eratkan Bhinneka Tunggal Ika
    Untuk memperkuat negeri kita
    Mencintai tanah air seutuhnya

    Indonesiaku

    Negeriku tercinta

    Palembang,3 Oktober 2009

    #38 Mangasa
    Spoiler:

    Alam

    Karya: Mangasa Tobing / 30

    Bentangan Luas Indah mempesona
    Hijau terhampar di Khatulistiwa
    Elok permai ku pandang parasnya

    Namun pesonamu memudar
    Ditelan keserakahan orang tak bertanggung jawab
    Khatulistiwa kosong

    Alamku... kehidupanku
    Aku hidup di dalam mu
    Dan sungguh hancur hatiku
    Melihatmu gundul, berasap dan tlah tercemar

    Sungguh kurindukan alam lestari
    Yang tak tercemar
    Dengan udara segar dan pesona indahmu

    Alam... alamku
    Ku yakin kau akan tetap hidup
    Pancarkan keindahan bentangan hijau
    Gagahnya gunung perkasa
    Lembutnya air sungai mengalir

    Ku akan menjagamu
    Hingga akhir hayatku

    -----------------------------------

    Permainan Sang Berdasi

    Karya: Mangasa Tobing / 30

    Permainan adalah tetap permainan
    Sesuatu yang mengasyikkan
    Tapi pasti ada yang kalah

    Sang berdasi kuat
    Dan yang lain lemah
    Peluang menang selalu lebih kecil bagi yang lemah
    Itulah permainan sang berdasi

    Mungkin permainan lebih cocok untuk anak kecil
    Yang memperebutkan sesuatu untuk mendapatkan permen manis
    Tak disangka...
    Sang berdasi pun suka bermain
    Aneh... namun itulah faktanya

    Bermain dalam suatu situasi
    Mencoba memenangkan suatu permainan
    Dan mengambil semuanya dari yang kalah
    Apakah ini pantas
    Jelas tidak

    Perut buncit sebagai lambang kemenangan atas si lemah
    Mungkin permainan takkan pernah selesai
    Atau mungkinkah suatu hari
    Itulah permainan sang berdasi

    Palembang, 3 Oktober 2009

    #39 Kevin Wijaya
    Spoiler:

    Terpasung

    Karya : Kevin wijaya / 28

    Kami terkekang
    Oleh tembok eksekutif yang berdiri kokoh
    Kami terbisu
    Oleh benteng legislatif yang berkoar
    Kami terpasung
    Oleh ketukan palu yudikatif yang tak imbang

    Suara kami ingin terdengar
    Oleh kepala Negara sang legislatif
    Suara kami ingin bergaung
    Di parlemen legislatif
    Suara kami ingin menentukan
    Akan keadilan yudikatif di Negara

    Biar kami bicara
    Agar suara kami menyatu dengan Negara
    Biar kami bergabung
    Agar langkah kami turut menentukan nasib
    Biar kami berdemokrasi
    Untuk Negara kami tercinta

    -------------------------

    Bisikan Laut

    Karya : Kevin wijaya / 28

    Kutatap laut luas terbentang
    Terpaku ku menatapnya
    Jernih walau lama tak ku pandang
    Membuat aku kagun melihatnya

    Ikan ikan menari nari di sekitarku
    Karang karang indah menenangkan pikiranku
    Bisikan bisikan ombak yang mengusik telingaku
    Terasa waktu berhenti saat aku di dekat mu

    Waktu seakan cepat berlalu
    Keindahan mu seakan berubah di makan waktu
    Tangan tangan jahat merusak mu
    Membuat mu hancur tiada arti

    Apakah mereka sadar ?
    Apakah mereka puas ?
    Dengan kelakuan yang tak pantas
    Dengan kejahatan moral mereka

    Mereka tidak seharus nya melakukan itu
    Karena laut adalah simpanan ibu pertiwi
    Harta yang diperjuangkan pahlawan
    Keindahan semesta yang tiada tara

    Palembang, 3 Oktober 2009

    #40 Adrian Dzikrillah
    Spoiler:

    Pemuda Indonesia

    Karya : Adrian Dzikrillah

    Tak ku sadari
    Perjuangan para pejuang dulu
    sangat lah sedih bila dingat
    sedih yang membahagiakan

    Perjuangan di medan perang
    Perjuangan tanpa henti yang dilakukan
    Semata-mata hanya untuk negeri ini
    Negeri tercinta

    Apa yang dibalas pemuda sekarang
    Hanya membuat keonaran
    Hanya membuat sedih para pejuang
    Sedih yang menyakitkan

    Kita sebagai pemuda Indonesia
    Pemuda yang mencintai tanah air
    Harus benar benar mencintai
    Mencintai sepenuh jiwa dan raga

    Kita harus berjuang untuk negara
    Walau kita tidak perang
    Kita dapat melakukan dengan berprestasi
    Demi mengharumkan nama bangsa

    Berkibarlah bendera ku
    Bendera merah putih

    Palembang, 3 Oktober 2009

    ----------------------------------

    Tuhan

    Karya : Adrian Dzikrillah

    Tuhan
    Ku jalankan perintah Mu
    Ku jauhi larangan Mu
    hanya untuk Mu semata

    Tiap hari aku menjalankan perintah Mu
    Mengharapkan pahala yanh lebih
    Agar hamba Mu ini dapat hidup senang di alam sana
    Kesenangan abadi

    Tuhan
    Ku percaya akan adanya Mu
    ku yakin akan perintah Mu
    Tak ada keraguan pada Mu

    Saya hanya hamba Mu yang lemah
    Yang penuh dengan dosa
    Yang takut akan azabmu
    Yang takut akan keagungan Mu

    Terima kasih tuhan

    Palembang, 3 Oktober 2009

    #41 Melia
    Spoiler:

    Tetesan Keringat Jasamu
    Karya : Melia / 33

    Beraneka ragam watak seseorang
    Tidak satupun sama
    Ada yang baik,buruk,dan sangat buruk
    Hal itu menjadi tantangan
    Bagimu oh Guruku
    Kesabaranmu meleburkan keegoisanku

    Raja siang muncul dari peraduannya
    Menandakan pagi hari yang cerah
    Wahai Guruku....
    Engkau pahlawan tanpa tanda jasa
    Canda tawamu kan selalu kuingat
    Akan ilmu yang telah kudapat
    Sedikit demi sedikit menjadi bukit
    Bagaikan padi yang semakin merunduk
    Seperti kami yang ilmunya terus bertambah

    Guruku........
    Engkau meneteskan keringat jasamu
    Tanpa kenal lelah dan merasa kecewa
    Suka duka yang kami buat
    Menyakitkan hatimu Guruku
    Namun engkau selalu sabar menghadapinya
    Hanya ingin membuat kami pintar
    Pengorbanan waktumu menjadi saksi
    Sejak awal hingga ijazah akhirku
    Tanpa jasamu oh.. Guruku
    Raga ini tak berarti apapun
    Hanya menjadi sampah masyarakat

    Berkat jasamu yang mulia
    Cita-cita pun bisa kugapai
    Dengan semua ajaranmu
    Menjadikanku orang yang berguna
    Tahu akan jasa dan pengorbananmu

    Setiap hari mengajarku
    Dengan penuh pengertian
    Bertekad kuat dan percaya
    Menjadikan kami orang bijaksana
    Dengan keahlian dan keuletan
    Membuat kami tahu akan satu hal
    Tidak ada orang bodoh di dunia

    Dengan ilmu yang engkau berikan
    Membuat ku lebih mengerti
    Apa artinya hidup di dunia ?
    Tidak lain hanya untuk belajar
    Belajar dari kesalahan
    Belajar dari kekalahan
    Belajar dari kegagalan
    Pelajaran itu pengalaman terbaik bagiku
    Membawaku menelusuri kehidupan sebenarnya

    Walaupun keegoisanku menyakitimu
    Tapi engkau selalu mengajarku tanpa pamrih
    Tetesan keringat jasamu
    Membangkitkan semangat hidupku
    Menggapai impian untuk masa depan
    Terima kasih Guruku

    Palembang,3 Oktober 2009

    ---------------------------------------

    Padamnya Moral Remaja
    Karya : Melia / 33

    Alunan lembut bisikan suaramu
    Telah kudengar dari kejauhan
    Mendengar angin membawa berita
    Namun tak berarti apapun
    Hanya seperti angin ribut berlalu

    Masa kecilku di bawah kehidupanmu
    Semua hal kulakukan demi dirimu
    Keotoriteran sikapmu membuatku takut
    Hidup dalam bayang-banyang misteri
    Pantaskah engkau merebut masa kecilku
    Tersentak aku dalam keheningan

    Suara bising menyelimutiku di tengah keramaian kota
    Dikelilingi laju kendaraan di tengah masyarakat
    Mencoba mencari kehidupan baru
    Hidup bersama barang-barang kotor
    Tidak lebih dari sampah masyarakat
    Disinikah tempat bagiku ?
    Mengisap ganja bagai di surga
    Menyuntik narkoba menghilangkan kejenuhan
    Minum obat-obatan menenangkan hati dan jiwa
    Bersama teman menelusuri kehidupan baru

    Apa daya tubuh dan pikiranku ?
    Hanya bisa kubuat hancur belaka
    Kubuat tubuh ini sangat kotor
    Kualihkan pikiran menuju hawa nafsu
    Menelusuri kehidupan remaja sekarang
    Mengikuti gaya berpacaran yang bebas
    Tanpa ingat nasehat orangtua

    Pacar bagaikan jantung yang berdetak
    Lalu,Apa artinya orangtua?
    Setiap hari memeras keringat
    Di bawah hujan.panas,dan petir sekalipun
    Demi mencari sesuap nasi
    Namun remaja sekarang tidak bermoral
    Hidup dalam kesenangan duniawi
    Tidak pernah menghargai orang lain
    Merasa hebat dan bangga atas dirinya sendiri

    Wahai engakau para remaja
    Kesenangan hidupmu menyakiti dirimu sendiri
    Hidup dalam gejolak lingkaran setan
    Meninggalkan sikap moral buruk
    Membuatmu menyesal seumur hidup
    Hidup dalam bayangan kehampaan
    Seperti hampa adalah kosong
    Lau kosong adalah hampa
    Bagaikan padamnya moral remaja

    Palembang,3 Oktober 2009

    #42 Frengky
    Spoiler:

    Amperaku

    Karya : Frengky Christianto

    Ampera
    Badanmu tampak lusuh
    Kau tak dapat bekerja seperti dulu
    Tetapi sekarang telah berubah
    Engkau yang dulunya hampir dilupakan
    Engkau yang hampir ditinggalkan
    Kini telah bangkit dari masa kelam
    Tiap malam dihiasi lampu-lampu
    Membuat engkau terhibur
    Terhindar dari kesepian

    Namun, dibalik semua itu
    Kaulah kebanggaan kami
    Kau tetap berdiri sepanjang waktu
    Mulai dari pagi hingga petang ke malam
    Engkau menjadi saksi bisu
    Sejarah di Bumi Sejarah ini
    Saksi dari perjuangan rakyat Palembang
    Oleh karena itu
    Tetaplah berdiri kokoh

    Sekarang
    Kau telah menjadi monumen
    Sesuatu yang amat beharga bagi kami
    Rakyat Sumatra Selatan

    ----------------------------------------

    Penjanji Palsu

    Karya : Frengky Christianto

    Kau hanya diam
    Ketika semua orang berkumpul
    Ketika semua orang berteriak
    Ketika semua orang menangis
    Di depanmu

    Kau tetap diam
    Ketika kepiluan melanda
    Ketika tangis pecah di seluruh pelosok Indonesia
    Ketika rakyat menderita dan mengeluh, bahkan meronta-ronta

    Kau tetap diam
    Bahkan terus terdiam
    Seakan tak peduli kami
    Tak peduli rakyat kecil yang telah memberikanmu kedudukan
    Memberikan kemewahan
    Memberikan semua yang enak padamu

    Dimana janjimu ?
    Janji yang terasa manis
    Terasa sejuk
    Terasa begitu indah

    Sekarang kami tahu
    Kau tidak lain adalah penjanji palsu
    Kau dustai kami denagn janji-janji palsumu
    Kau sungguh mengecewakan

    Palembang, 3 Oktober 2009

    #43 Andre Hidayat
    Spoiler:

    Tanahku Sumatera

    Karya : Andre Hidayat ( XII IPA 5)

    Tanah airku yang sangat subur
    Bertikar bersawah padi
    Berladang berkebun kopi
    Berharta di dalam hutan
    Sejauh memandang hijau menghampar
    Damai pun terasa di hati
    O, tanah airku yang subur

    Aku pintakan kepada Tuhan
    Bagi Sumatera diturunkan cinta
    Supaya tanah dan ladang pulauku
    Diturunkan rahmat darimu
    Agar tanah dan ladang subur
    Sehingga yang lemah dan kecil
    Dapat berteduh di kayu nan rindang
    Oh Tuhan, limpahilah tanahku dengan cahaya

    Dimana gunung berderet
    Disitu ditumbuhi kayu dan kehijauan
    Sumatera tanahku yang kaya
    Dimana paya penuh berikan
    Tempat itik berulang mandi
    Sawah terbentang dengan suburnya
    Perdu pun buahnya besar dan bernas
    Pohon buah hidupnya rindang
    Sumatera tanah airku yang tidak dilupa

    Tetapi kudengar seru sayup bahasa
    Amarahmu mengoyakkan dirimu
    Kemarahanmu membuat dunia terdiam
    Insan tak berdosa pun menjadi korban amukanmu
    Hatiku hancur melihatmu
    Hendak direnungkan dan diratapi pun tak bisa
    Ini akibat perbuatan mereka menodaimu
    Aku turut bersedih
    Tetapi apa yang terjadi biarlah terjadi

    Permailah hidupmu dalam bahagia
    Dibawah langit tanah yang mulia
    Kesuburanmu tak berkesudahan
    Harapanku oh pulauku
    Bahagialah budimu rata dikunjung
    Di hati rakyat berbagai roman

    Sukma untuk negeri tercinta
    Mengarungi tanah dan langitmu
    Di ujung pemikiranku
    Hartaku
    Tubuhku
    Jiwaku
    Kan kupersembahkan untukmu negeriku

    Palembang 3 Oktober 2009

    --------------------------------------

    Iman

    Karya : Andre Hidayat ( XII IPA 5)

    Dengarlah langkah itu
    Serombongan hewan ternak menangis
    Sebagian manusia berlari
    Serombongan makhluk-makhluk menghampiri

    Setiap kejadian yang ada di depanku
    Mudah untuk kupersalahkan
    Apa yang tidak sesuai dengan nalarku
    Semua yang hadir tampak adalah masalah-Nya
    Dan tidak padaku
    Aku selalu mendebat
    Berulang-ulang Engkau sampaikan perkataanmu
    Aku tak kunjung mengerti
    Inilah kesalahanku yang mendasar
    Sebagai orang yang ingin diajari hidup oleh Tuhan
    Tetapi aku malah sibuk sendiri
    Tidak peduli kanan kiri

    Orang beriman adalah
    Yang mentaat perintah Allah dan Yesus
    Dan belajar mencontoh pribadi mereka
    Yang selalu membersihkan rumahnya
    Dari berhala zaman sekarang

    Yang belajar mempersiapkan kematiannya
    Dan keluar dari tempat kelahirannya
    Yang meletakkan kitab di hati
    Bukan di kaki
    Sehingga Tuhan pun berkenan disembah

    Yang mengerjakan perintah-Nya
    Yang menyebarkan sabda-Nya

    Yang berkorban demi-Nya
    Yang rela mati demi-Nya
    Tanpa banyak bertanya
    Apalagi keluh kesah

    Dan melihat semua usaha ini
    Ia akan tersenyum
    Karena Tuhan
    Telah berkenan
    Untuk membawa dirimu
    Menuju kebahagian surga
    Bersama-Nya
    Selamanya

    Palembang, 3 Oktober 2009

    #44 Joas
    Spoiler:

    Nyanyian Pohon

    Karya : Joas V.D. (27)

    Cekikikan daun
    Matahari berbisik mesra
    Sayang, aku pulang
    Gapai- gapai tangan gemelai

    Kuncup dan muncul malu- malu
    Awan tersenyum maklum, terharu
    Burung bersiul senang
    Kuncup- kuncup menari riang
    Bersemi
    Bermekaran

    Degup jantung hutan

    Memburu
    Membunuh
    Gelitik nakal jahanam
    Merayap, mencabik, merobek

    Kami teriak
    Burung hantu bersiul panik
    Mentari makin lama makin nyalang
    Awan, permen gulali putih

    Asap mengepul- ngepul
    Kami menangis
    Ketika dahan berubah kering kerontang
    Darah gosong berceceran
    Daun menjadi debu
    Kami menjadi abu

    Dunia menangis ?

    ---------------------------------------

    Kekuasaan palsu

    Karya : Joas V.D. (27)

    Engkau berdiri di balik meja kebesaranmu
    Berlindung di balik topeng palsu
    Yang kau pakai atas nama orang banyak
    Demi kepentingan semua umat

    Senyum dan tawa berkembang
    Di keluarga yang kau bina
    Atas segala kemewahan dan kemakmuran
    Yang kau beri dengan kerja keras palsu

    Apakah kebahagiaan yang kau dapat ?
    Apakah kekuasaan yang kau nikmati ?
    Apakah kau merasa bangga ?
    Ketika menerima uang kotor itu ?

    Aku di sini hanya sebagai pendengar
    Jerit dan tangis orang- orang
    Yang kau pakai sebagai tameng
    Kekuasaan palsumu

    Palembang, 04 Oktober 2009


    _________________
    Peace through technology.

    Sponsored content

    Re: Back Up Puisi XII IPA 5

    Post by Sponsored content


      Waktu sekarang Mon Oct 23, 2017 11:03 am